Gunung Merapi Masih Siaga Level III: 71 Guguran dan Asap Tipis Terpantau, Hindari Zona Bahaya

Iwa Ikhwanudin • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 00:50 WIB
Ilustrasi Awan panas guguran gunung Merapi.
Ilustrasi Awan panas guguran gunung Merapi.

SLEMAN – Gunung Merapi, gunung berapi aktif yang berdiri megah di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah, masih menunjukkan aktivitas yang perlu diwaspadai. Berdasarkan laporan resmi periode 6 Agustus 2026 pukul 00.00 hingga 24.00 WIB, status gunung ini tetap berada di Level III atau Siaga. Masyarakat di sekitar lereng diminta tetap waspada dan menjauh dari kawasan yang berpotensi berbahaya.

Pengamat di lapangan mencatat kondisi visual gunung relatif jelas meski kadang diselimuti kabut tipis hingga sedang. Asap kawah berwarna putih dengan intensitas tipis terpantau keluar dengan tekanan lemah. Tingginya mencapai 10 hingga 250 meter di atas puncak. Cuaca di sekitar kawasan berganti-ganti antara cerah, mendung, dan hujan, dengan angin lemah yang bertiup ke arah barat. Suhu udara berkisar 15,3 hingga 25,7 derajat Celsius, sementara kelembaban dan tekanan udara berada pada rentang normal untuk ketinggian tersebut.

Aktivitas kegempaan dalam 24 jam terakhir cukup signifikan. Tercatat 71 kali kejadian guguran dengan amplitudo 2-34 mm dan durasi antara 32 hingga hampir 200 detik. Selain itu, terjadi 90 gempa hybrid atau fase banyak, sembilan gempa vulkanik dangkal, serta empat gempa tektonik jauh. Data ini menunjukkan bahwa suplai magma di dalam tubuh gunung masih berlangsung. Kondisi tersebut berpotensi memicu guguran lava maupun awan panas di sektor-sektor yang sudah diidentifikasi sebagai daerah rawan.

Menurut rekomendasi Badan Geologi melalui PVMBG dan BPPTKG, potensi bahaya utama saat ini berupa guguran lava dan awan panas. Di sektor selatan-barat daya, material bisa menjangkau Sungai Boyong hingga maksimal 5 km, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga 7 km. Di sektor tenggara, Sungai Woro berpotensi terdampak hingga 3 km dan Sungai Gendol hingga 5 km. Jika terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik bisa mencapai radius 3 km dari puncak.

Baca Juga: Lima Puluh Tangki Air Dikirim ke Tempat Ibadah dan Lembaga Keagamaan di Kebumen untuk Wudu

Warga diingatkan untuk tidak melakukan aktivitas apa pun di dalam zona potensi bahaya tersebut. Khususnya saat hujan turun di sekitar Gunung Merapi, risiko lahar dan awan panas guguran meningkat. Gangguan abu vulkanik juga perlu diantisipasi, terutama bagi masyarakat yang tinggal di area yang mungkin terdampak. Data pemantauan terus menunjukkan bahwa aktivitas magma masih aktif, sehingga status Siaga dipertahankan.

Tri Mujiyanta sebagai penyusun laporan menegaskan bahwa pemantauan dilakukan secara ketat. Jika terjadi perubahan signifikan, tingkat aktivitas akan segera dievaluasi ulang. Informasi ini bersumber dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Badan Geologi, serta Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi.

Bagi warga yang tinggal di sekitar lereng Merapi, situasi ini bukan sekadar angka di laporan. Setiap gempa dan guguran mengingatkan bahwa gunung yang menjadi ikon Jawa Tengah dan DIY ini tetap hidup. Kesiapsiagaan, mengikuti arahan pemerintah setempat, serta menghindari zona bahaya adalah langkah sederhana namun penting untuk melindungi keselamatan bersama. Pemantauan terus dilakukan agar informasi terbaru dapat segera disampaikan kepada masyarakat.

Status Level III Siaga bukan berarti erupsi besar segera terjadi, tetapi menjadi peringatan bahwa potensi bahaya tetap ada. Masyarakat diharapkan tetap tenang, mengikuti perkembangan resmi, dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Dengan kewaspadaan yang tepat, dampak aktivitas Gunung Merapi dapat diminimalkan.

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : BPPTKG Yogyakarta
Gunung Merapi hari ini Gunung Merapi Merapi Hari Ini Merapi Erupsi