Mengintip Napas Merapi: Saat Gunung Paling Aktif di Jawa Lempar Guguran Lava Sejauh 1,9 Km

Iwa Ikhwanudin • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 09:24 WIB
Ilustrasi Awan panas guguran gunung Merapi.
Ilustrasi Awan panas guguran gunung Merapi.

 SLEMAN — Merapi tak pernah benar-benar tidur. Di balik kabut tipis dan udara pegunungan yang sejuk, raksasa berapi yang membentang di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah ini terus menunjukkan geliat alaminya. Berdasarkan data pemantauan terbaru Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), aktivitas vulkanik Gunung Merapi tercatat masih intensif namun tetap berada dalam pengawasan ketat.

Sepanjang periode pengamatan 24 jam pada Minggu (2/8/2026), suasana di sekitar puncak berketinggian 2.968 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini diwarnai cuaca yang berganti dari cerah, berawan, hingga mendung. Angin berembus perlahan ke arah barat, membawa suhu udara sejuk berkisar antara 15,7 hingga 27,5 derajat Celsius.

Secara visual, gagahnya puncak Merapi teramati cukup jelas. Dari celah kawahnya, membumbung asap putih bertekanan lemah dengan intensitas tipis, melayang setinggi 50 hingga 75 meter ke udara. Namun, di balik ketenangan visual asap kawah tersebut, dapur magma di perut Merapi nyatanya masih terus bekerja menyuplai energi.

Petugas penyusun laporan BPPTKG, Tri Mujiyanta, mengonfirmasi bahwa guguran lava pijar masih menjadi fenomena yang mendominasi. Selama sehari penuh, teramati sebanyak sembilan kali guguran lava meluncur ke arah Barat Daya, mengaliri alur Kali Sat, Kali Putih, dan Kali Krasak. Jarak luncuran material panas tersebut terbilang cukup jauh, yakni mencapai hingga 1.900 meter dari pusat kawah.

Baca Juga: Diduga Bawa Airsoft Gun dan Clurit, Polisi Buru Pelaku Kejahatan Jalanan di Maguwoharjo Sleman 

Selain luncuran lava yang kasatmata, aktivitas seismik di dalam tubuh gunung juga menunjukkan dinamika yang signifikan. Pengamatan kegempaan mencatat terjadi 117 kali gempa guguran dengan amplitudo berkisar 2 hingga 52 mm.

Tak hanya itu, instrumen pemantau merekam 75 kali gempa Hybrid (Fase Banyak) serta 10 kali gempa Vulkanik Dangkal. Tingginya frekuensi gempa fase banyak ini menjadi sinyal kuat bahwa suplai magma segar dari kedalaman masih berlangsung aktif menuju permukaan, yang sewaktu-waktu dapat memicu munculnya awan panas guguran (APG) atau yang populer dikenal masyarakat lokal sebagai wedhus gembel. 

Saat ini, status Gunung Merapi masih berada pada Level III (Siaga). BPPTKG meminta warga yang bermukim di empat wilayah kabupaten sekitar—Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten—untuk tetap tenang namun senantiasa meningkatkan kesiapsiagaan.

Otoritas geologi telah memetakan zona potensi bahaya yang wajib dikosongkan dari segala bentuk aktivitas manusia. Potensi guguran lava dan awan panas di sektor selatan hingga barat daya diantisipasi dapat mengancam alur Sungai Boyong hingga radius 5 km, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga sejauh 7 km. Sementara di sektor tenggara, potensi bahaya mengintai area Sungai Woro sejauh 3 km dan Sungai Gendol hingga 5 km. Apabila terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik diperkirakan sanggup menjangkau radius 3 kilometer dari puncak.

Baca Juga: Gunungkidul Tambah Empat Jembatan Gantung usai Rampungkan Pembangunan Tiga Jembatan Garuda

Masyarakat juga diimbau untuk selalu mewaspadai bahaya sekunder berupa banjir lahar dingin, terutama saat hujan berintensitas tinggi mengguyur kawasan puncak. Kesiapsiagaan mengantisipasi paparan abu vulkanik juga perlu disiapkan agar kesehatan warga tetap terjaga. Merapi adalah bagian dari kehidupan masyarakat sekitar; memahami karakternya serta mematuhi arahan pihak berwenang menjadi kunci utama untuk hidup harmonis dan aman berdampingan dengan sang gunung.

 

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : BPPTKG Yogyakarta
Gunung Merapi hari ini Sleman Gunung Merapi Merapi Hari Ini Erupsi