Komisi D DPRD Sleman Jajaki Potensi Kolaborasi Sleman Pintar dan Transmigrasi Patriot, Ciptakan Generasi Muda Sukses dan Mandiri

Yogi Isti Pujiaji • Dipublikasikan Senin, 27 Juli 2026 | 06:00 WIB
PROGRAM SOSIAL: Sekretaris Komisi D DPRD Kabupaten Sleman H. Banudoyo Manggolo SKom memimpin rapat kerja didampingi anggota H. Dedie Kusuma SE dan Ali Imron SPd akhir pekan lalu. (YOGI IP/RADAR JOGJA)
 
PROGRAM SOSIAL: Sekretaris Komisi D DPRD Kabupaten Sleman H. Banudoyo Manggolo SKom memimpin rapat kerja didampingi anggota H. Dedie Kusuma SE dan Ali Imron SPd akhir pekan lalu. (YOGI IP/RADAR JOGJA)  

SLEMAN - Kementerian Transmigrasi tengah menggalakkan program transmigrasi patriot untuk memberdayakan generasi muda dan sarjana terbaik dalam mempercepat pembangunan kawasan transmigrasi. Sedangkan Kabupaten Sleman memiliki program Sleman pintar untuk mencetak sarjana dari keluarga kurang mampu. Kedua program unggulan tersebut diharapkan bisa tersinergi.

Program Sleman pintar memberikan beasiswa pendidikan tinggi secara penuh bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Adapun tujuannya memutus mata rantai kemiskinan antargenerasi dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Kabupaten Sleman. Sekaligus mengimplementasikan misi pemerintah daerah mewujudkan satu keluarga miskin satu sarjana.

Baca Juga: Pembangunan Kantor Baru Dinkes Gunungkidul Dimulai, Proyek Senilai Rp 7,11 Miliar di Siraman

Sementara program transmigrasi patriot yang diinisiasi Kementerian Transmigrasi bukan sekadar memindahkan penduduk. Melainkan pendekatan modern yang mengubah kawasan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru. Konsepnya menerjunkan generasi muda dan sarjana terbaik ke pelosok negeri guna mentransfer ilmu pengetahuan, teknologi, dan merancang pusat pertumbuhan ekonomi baru di kawasan transmigrasi.

Sekretaris Komisi D DPRD Kabupaten Sleman H. Banudoyo Manggolo SKom melihat adanya potensi kolaborasi kedua program tersebut. Kader muda Partai Golkar itu menilai, program transmigrasi patriot bisa menjadi sarana tindak lanjut masa depan sarjana produk Sleman pintar. "Ini peluang yang harus ditangkap. Supaya para peserta program Sleman pintar setelah lulus kuliah bisa langsung berkarya," ujar Banudoyo.

Baca Juga: Waspada, Kawasan Bentang Alam Karst Gunungkidul Berpotensi Paling Rawan Kekeringan: Ini Wilayahnya!

Sebagaimana diketahui, saat ini masih banyak sarjana menganggur. Lulus sekolah tak lantas mendapatkan pekerjaan. Maka selain konsep pemagangan di perusahaan swasta lewat program Sleman pintar, transmigrasi patriot bisa menjadi sasaran alternatif. Sehingga alumnus Sleman pintar bisa langsung bekerja. Atau mendapatkan program beasiswa lanjutan, yakni S2 bahkan S3 melalui program transmigrasi patriot.

Dengan begitu konsep dasar Sleman pintar untuk memutus rantai kemiskinan di Bumi Sembada akan lebih optimal. "Sekarang tinggal bagaimana pemerintah daerah bisa 'meng-klik-kan' program Sleman pintar dengan transmigrasi patriot," ungkap politikus asal Kapanewon Pakem.

Anggota Komisi D DPRD Kabupaten Sleman H. Dedie Kusuma SE turut mendorong jajaran dinas tenaga kerja dan transmigrasi lebih proaktif berkomunikasi dengan Kementerian Transmigrasi. Karena sejauh ini kementerian berkolaborasi langsung dengan perguruan tinggi.

Baca Juga: 942 Orang Daftar Beasiswa Santri dan Pengasuh Pesantren Pemprov Jateng, 15 Orang Lolos Kuliah Luar Negeri

Politikus PDI Perjuangan itu optimistis program transmigrasi patriot dan Sleman pintar bisa sinkron. Dengan semangat yang sama, yakni pemberdayaan generasi muda sarjana. "Jika perlu, dinas terkait presentasi program Sleman pintar di Kementerian Transmigrasi untuk penjajakan," saran Dedie.

Menurutnya, hal itu bisa menjadi pemecah kebuntuan minimnya minat masyarakat mengikuti program transmigrasi reguler akibat banyaknya kendala. Terutama soal status tanah dan seringnya terjadi konflik lahan di lokasi transmigrasi. Juga keterbatasan sumber daya manusia di Kabupaten Sleman sendiri. "Hidup di wilayah transmigrasi memang tak mudah. Butuh mental kuat dan kerja keras. Serta kemampuan dan keterampilan yang mumpuni, khususnya di bidang pertanian atau perkebunan," jelas tokoh asal Caturtunggal, Depok itu.

 

Dedie mengatakan, saat ini setidaknya ada dua model transmigrasi. Yakni membuka dan mengolah lahan sendiri dari jatah tanah untuk para transmigran. Atau mengelola lahan milik perusahaan -sawit, misalnya- dengan sistem gaji. Artinya, para transmigran bekerja pada industri.

Maka kemampuan mengolah lahan itu mutlak harus dikuasai oleh peserta transmigrasi. Selain itu, para transmigran harus pandai membaca peluang usaha lain di daerah transmigrasi. Sehingga mereka tak sekadar bisa bidup layak, tapi mendapatkan penghasilan lebih. "Sarjana program Sleman pintar pasti memiliki kelebihan itu," ujarnya yakin.

Kendati demikian, lanjut Dedie, pemerintah daerah tetap perlu mengawal perkembangan para transmigran. Supaya sukses dan betah. Jangan sampai mereka balik lagi ke Kabupaten Sleman dan malah menjadi pengangguran. "Nah, ini tentu butuh advokasi dan pendampingan dari pemerintah daerah asal transmigran. Mereka perlu dibekali beragam pelatihan sesuai passion masing-masing," tuturnya. (yog)

 

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
komisi d dprd kabupaten sleman kementerian transmigrasi DPRD Sleman transmigrasi patriot Sleman Pintar