Aktivitas Merapi Masih Tinggi, 34 Kali Luncuran Lava Meluncur ke Barat Daya Sejauh 2 Km

Iwa Ikhwanudin • Dipublikasikan Minggu, 26 Juli 2026 | 05:26 WIB
Ilustrasi Awan panas guguran gunung Merapi.
Ilustrasi Awan panas guguran gunung Merapi.

 SLEMAN – Aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih menunjukkan tren tinggi dalam 24 jam terakhir. Berdasarkan laporan resmi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), gunung setinggi 2.968 meter di atas permukaan laut ini mencatat puluhan kali guguran lava dengan jarak luncur signifikan sepanjang periode pengamatan Sabtu, 25 Juli 2026, pukul 00.00-24.00 WIB.

Dalam laporan tersebut, tercatat 34 kali guguran lava mengarah ke barat daya, tepatnya menuju Kali Sat/Putih, Kali Krasak, dan Kali Bebeng, dengan jarak luncur maksimum mencapai 2.000 meter. Guguran lava ini menjadi indikator bahwa suplai magma dari dalam perut gunung masih terus berlangsung hingga saat ini.

Secara visual, gunung yang berada di wilayah Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten ini teramati jelas meski sesekali tertutup kabut tipis. Asap kawah bertekanan lemah berwarna putih teramati dengan intensitas tipis, mencapai ketinggian 10-25 meter di atas puncak kawah. Kondisi cuaca di sekitar Merapi tercatat berawan hingga cerah, dengan suhu udara berkisar 12,2-24,4°C dan kelembaban 43,7-71%.

Dari sisi kegempaan, BPPTKG mencatat aktivitas yang cukup padat. Gempa guguran menjadi yang paling dominan dengan 79 kejadian, disusul gempa hybrid atau fase banyak sebanyak 72 kali. Selain itu, terekam pula 2 kali gempa vulkanik dangkal dan 3 kali gempa tektonik jauh. Rangkaian data kegempaan ini menjadi salah satu dasar penilaian status aktivitas gunung yang berlokasi di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah tersebut.

Baca Juga: Waspada Silent Killer! Kanker Usus dan Penyakit Hati Kini Mengintai Anak Muda, Apa Pemicunya?

Hingga kini, status aktivitas Gunung Merapi masih bertahan pada **Level III atau Siaga**. BPPTKG menegaskan bahwa potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awanpanas terutama di sektor selatan-barat daya, meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 km, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh maksimal 7 km. Sementara di sektor tenggara, ancaman meliputi Sungai Woro sejauh 3 km dan Sungai Gendol sejauh 5 km. Lontaran material vulkanik akibat letusan eksplosif berpotensi menjangkau radius 3 km dari puncak.

Menyikapi kondisi ini, BPPTKG mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas apa pun di dalam daerah potensi bahaya yang telah ditetapkan.

Warga juga diminta mewaspadai ancaman lahar dan awanpanas guguran (APG), khususnya saat curah hujan tinggi terjadi di seputar wilayah Merapi. 

Selain itu, potensi gangguan abu vulkanik akibat aktivitas erupsi juga perlu diantisipasi oleh masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan rawan bencana ini.

BPPTKG menyatakan bahwa tingkat aktivitas Gunung Merapi akan segera dievaluasi kembali apabila terjadi perubahan signifikan pada data pemantauan.

Laporan ini disusun oleh petugas pemantau BPPTKG, Suratno dan Yulianto, berdasarkan data resmi dari Kementerian ESDM, Badan Geologi, dan PVMBG.

Baca Juga: Gaya Belajar Unik di SMK Syubbanul Wathon Secang, Setengah Hari Akademik dan Pembinaan Pesantren

Masyarakat dapat memantau perkembangan aktivitas Gunung Merapi secara berkala melalui laman resmi MAGMA Indonesia maupun media sosial resmi PVMBG untuk mendapatkan informasi terkini dan akurat seputar status gunung berapi aktif ini. (iwa) 

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : BPPTKG Yogyakarta
Level Siaga Gunung Merapi BPPTKG aktivitas vulkanik guguran lava