SLEMAN - Kepergian mantan pemain PSS Sleman dan PSIM Jogja Markus Fajar Listiyantara, tak hanya meninggalkan duka bagi keluarga, tetapi juga rekan-rekan seperjuangan hingga para suporter yang pernah menyaksikan kiprahnya di lapangan hijau.
Sosok Fajar dikenang sebagai pribadi yang rendah hati, mudah bergaul, sekaligus pemain dengan kemampuan lemparan ke dalam yang sulit ditandingi pada masanya.
Mantan rekan setim Fajar di PSS Sleman Muhammad Anshori atau yang akrab disapa Bagong, mengaku telah mengenal Fajar sejak akhir 1990-an.
Keduanya sempat bermain bersama sejak level usia muda hingga memperkuat tim senior PSS Sleman selama sekitar lima hingga enam musim.
Menurut Bagong, di luar lapangan Fajar merupakan sosok yang ceria dan sangat mudah akrab dengan siapa saja.
"Yang jelas dia orangnya periang. Sama teman juga suka bercanda. Orangnya enak diajak bercanda, diajak main, apalagi diajak jalan-jalan, paling enak," kenangnya di rumah duka, Sabtu (25/7/2026).
Meski sama-sama telah pensiun sebagai pesepak bola profesional, komunikasi di antara para pemain generasi tersebut tetap terjalin.
Mereka kerap bertemu dalam laga fun football maupun pertandingan veteran.
Secara pribadi, Bagong mengaku baru mengetahui kondisi kesehatan Fajar setelah rekan-rekannya menggelar laga amal untuk membantu biaya pengobatan akibat gagal ginjal yang diderita mantan bek tersebut.
Ia pun sempat menjenguk Fajar sekitar sebulan lalu ketika hendak mengikuti turnamen di Taji.
Saat itu, kondisi Fajar memang sudah terlihat melemah, namun masih bisa berkomunikasi dengan baik.
"Waktu itu memang sudah sakit dan kelihatan lemas. Tapi masih bisa diajak bicara, masih tahu siapa saja yang datang menjenguk," ujarnya.
Ia menuturkan, bahwa kabar meninggalnya Fajar justru baru ia ketahui pada Sabtu pagi setelah diberitahu sang istri.
"Tahunya malah pagi tadi dari istri. Habis itu kami langsung memutuskan datang ke sini untuk takziah," ujarnya.
Baca Juga: Andrea Pirlo Sepakat Jadi Pelatih Baru Timnas Italia
Senada, mantan pemain PSS Sleman lainnya, M. Eksan, mengenang Fajar sebagai pribadi yang juga memiliki sikap baik terhadap siapa pun.
Menurutnya, karakter tersebut membuat Fajar mudah diterima di lingkungan tim.
"Secara pribadi Mas Fajar orangnya baik dan supel. Kalau sama yang senior juga sangat menghormati, attitude-nya baik," ujar Eksan yang pernah bermain bersama Fajar di PSS pada periode 2002 hingga 2005.
Di atas lapangan, Eksan menilai Fajar memiliki kualitas teknis yang menonjol, terutama kemampuan melakukan lemparan ke dalam jarak jauh yang menjadi ciri khasnya.
"Sebagai pemain, Mas Fajar punya kelebihan di lemparan ke dalam yang jauh. Selain itu teknik dan skill-nya juga bagus," tambahnya.
Kenangan serupa juga datang dari kalangan suporter. Andreas Rah Aji, pengelola media komunitas Ayo Dukung PSIM, mengaku Fajar menjadi salah satu pemain yang membekas dalam ingatannya.
"Kalau saya ingatnya di PSIM itu jelas lemparan dalam Mas Fajar. Menurut saya, sebelum era sepak bola modern seperti sekarang, kemampuan itu belum dimiliki banyak pemain. Lemparannya memang khas," ujarnya.
Salah satu momen yang paling diingatnya adalah saat PSIM menghadapi PSIS Semarang di Stadion Mandala Krida. Meski PSIM kalah, Andreas masih mengingat proses gol yang diawali lemparan jauh Fajar.
"Gol itu berawal dari lemparan dalam Mas Fajar, diteruskan Jaime Sandoval, lalu diselesaikan Mas Seto dengan salto. Sampai sekarang saya masih ingat momen itu," kenangnya.
Secara pribadi, Andreas mengaku sempat merancang penggalangan dana melalui penjualan poster bertanda tangan Fajar untuk membantu biaya pengobatan sang legenda. Namun, rencana tersebut belum sempat diwujudkan hingga Fajar berpulang.
"Sebenarnya kami sudah menyiapkan konsep open donasi lewat penjualan poster bertanda tangan Mas Fajar. Tapi Tuhan berkehendak lain. Saya merasa punya utang karena belum sempat mewujudkan itu," tuturnya.
Baca Juga: Kebaya Janggan, Ciri Khas Kebaya Yogyakarta yang Perlu Diketahui di Hari Kebaya Nasional
Tak hanya itu, Andreas juga mengaku menyesal belum sempat memenuhi ajakan Fajar untuk kembali menonton pertandingan PSIM bersama.
"Saya pernah diajak Mas Fajar nonton PSIM bareng, tapi waktu itu saya sedang bekerja. Sampai sekarang itu menjadi penyesalan saya karena ternyata kesempatan itu tidak datang lagi," pungkasnya. (iza)
Editor : Meitika Candra Lantiva