SLEMAN - Tlogo Nirmolo yang berada di kaki Bukit Plawangan, Kaliurang, dulunya adalah destinasi yang tak pernah sepi pengunjung. Di kolam yang terletak di Kalurahan Hargobinangun, Kapanewon Pakem, Sleman ini pengunjung bisa menikmati lanskap pegunungan. Ada air yang segar dan jika mau bisa mendaki untuk menjelajahi Goa Jepang.
Lurah Hargobinangun, Amin Sarjito menjelaskan, wisata ini ditutup sejak Gunung Merapi mengalami erupsi. Dia sebut memang sempat dibuka, tetapi akhirnya ditutup kembali hingga kini oleh Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM). Penutupan itu disebabkan karena lokasinya masuk dalam kawasan rawan bencana tiga dan memang dekat dengan hulu Sungai Boyong.
"Sebenarnya banyak wisawatan yang mau ke sana, tapi sampai sekarang belum dibuka," katanya saat dihubungi lewat sambungan telepon, Kamis (16/7/2026).
Baca Juga: Tlogo Nirmolo, Wisata yang Tertidur di Lereng Merapi, antara Konservasi dan Keselamatan Pengunjung
Dulu Tlogo Nirmolo ini dikenal karena kejernihannya, sehingga banyak masyarakat yang bermain air. Suasananya lebih tenang karena memang tidak penuh dengan pedagang layaknya Tlogo Putri atau Tlogo Muncar.
Amin memperkirakan, setidaknya dalam sebulan destinasi ini bisa didatangi oleh 2.000 orang. Sementara saat ini kondisinya sudah tidak terawat, ditinggalkan, dan tidak ada lagi airnya.
"Ini tinggalan zaman dahulu, kolam renangnya dulu untuk bangsawan keraton. Sesuai namanya Nirmala itu berarti taman surga," katanya.
Menurut Amin, masyarakat sekitar memang berharap Tlogo Nirmolo bisa dibuka. Walau tidak ada airnya, destinasi ini berpotensi sebagai tempat trekking maupun edukasi para pelajar atau masyarakat umum. Apalagi lokasinya berupa lanskap hutan dengan banyak pohon yang berusia tua untuk bisa dipelajari.
Dengan dibukanya Tlogo Nirmolo, dia yakin bisa meningkatkan ekonomi masyarakat sekaligus menarik wisatawan. Agar nantinya wisata di Kaliurang semakin bertambah, tidak sebatas Tlogo Putri dan Tlogo Muncar saja.
Hanya saja hal ini bukan hal mudah, karena terkendala regulasi dari TNGM. "Minat ke Tlogo Putri dan Tlogo Muncar sendiri masih tinggi, tetapi memang selepas erupsi 2010 ada penurunan debit mata air," tambahnya. (del/laz)
Editor : Herpri KartunSumber : Radar Jogja