Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Sugiyantoro Kembali Didapuk Membuat Boneka Bekakak di Gamping Sleman; Jalankan Tugas sejak 1991, Berharap Ada Regenerasi

Delima Purnamasari • Kamis, 16 Juli 2026 | 19:36 WIB
DARI TEPUNG: Sugiyantoro saat membuat boneka bekakak, Kamis (16/7/2026). Pasangan pengantin bekakak ini akan dikirab dan disembelih pada Jumat (18/7/2026) ini. (Foto: Delima Purnamasari/Radar Jogja)
DARI TEPUNG: Sugiyantoro saat membuat boneka bekakak, Kamis (16/7/2026). Pasangan pengantin bekakak ini akan dikirab dan disembelih pada Jumat (18/7/2026) ini. (Foto: Delima Purnamasari/Radar Jogja)

SLEMAN - Tradisi Bekakak adalah ritual masyarakat di Kapanewon Gamping, Sleman dalam rangka memohon keselamatan.

Puncak acara yang digelar setiap bulan Safar (Jawa: Sapar) ini adalah  kirab dengan penyembelihan boneka pengantin.

Sosok yang memiliki keistimewaan untuk membuat bonekanya adalah Sugiyantoro. 

Suasana Padepokan Omah Soewoeng di Kalurahan Ambarketawang, Kapanewon Gamping penuh orang yang sibuk dengan kegiatan masing-masing.

Baca Juga: Seniman Jessica Soekidi Angkat Umbi Jadi Simbol Keberlanjutan Generasi pada Karyanya di ARTJOG 2026, Ini Maksudnya!

Diiringi gending-gending Jawa, ibu-ibu sibuk menyiapkan hidangan dan sesaji. Ada pula bapak-bapak yang tengah mencampur adonan.

Sementara lainnya membentuk janur. Namun, dari semua itu sosok yang paling menarik perhatian adalah Sugiyantoro. 

Dia terlihat terampil membentuk adonan dari tepung beras dan tepung ketan yang setidaknya berjumlah 30 kilogram.

Tepung itu melapisi kerangka badan dan tangan boneka yang dibuat dengan bilah bambu.

Sementara kepalanya ditancapkan dahulu sebuah pepaya kecil untuk memudahkan pembentukannya.

Di bagian tengah badan empat boneka ini diberi kantong plastik menggantung berisi sirup merah cair.

Nantinya ini jadi pelambang darah yang mengalir saat leher boneka disembelih. 

"Saya sudah bikin sejak 1991 dan tidak ada yang beda," kata pria yang akrab disapa Tolo ini ditemui di sela-sela pembuatan, Kamis (17/7/2026).

Pria yang sehari-hari bekerja sebagai tukang pijat ini bercerita, tantangan utama dalam pembuatan boneka bekakak justru saat membuat adonan karena harus tepat setengah matang.

Jika tidak sesuai maka adonan bisa keras atau justru jadi lembek. Usai membentuk setiap bagian tubuh, dilanjutkan dengan proses penghalusan menggunakan air.

Baca Juga: Tak Ada Papan Informasi Proyek dan Ditinggal Pergi Pengawas, Penataan TPA Kaligending Bikin Geram Anggota DPRD Kebumen

Lalu di akhir akan dilakukan pelapisan menggunakan minyak goreng.

Hal ini untuk memperlambat penguapan dan mencegah boneka retak ketika terkena cuaca panas. 

Saat sudah berbentuk layaknya manusia, dua pasang boneka ini diberi hiasan dan pakaian layaknya pengantin.

Pengantin laki-laki satu menggunakan blangkon, sementara lainnya kanigoro.

 Untuk yang perempuan menggunakan konde dan satunya bergaya gulung tekuk.

Proses pembuatan ini dilakukan sejak pukul 09.00 hingga 16.30. 

"Terakhir nanti dirias, bisa pakai riasan orang atau cat air, bebas. Dirias agar seperti manten betulan," katanya. 

Orang zaman dahulu yang terlibat dalam prosesi bekakak ini memang harus berpuasa.

 Mulai dari yang membuat ogoh-ogoh, pembawa barang kirab, hingga pembuat boneka ini.

Hanya saja dia sebut saat ini tata laku tersebut tidak lagi dijalankan. 

Pria berusia 70 tahun ini mengaku sudah cukup lama melaksanakan tugas pembuatan boneka bekakak ini.

Baca Juga: Begini Tanggapan UTPD PASTHY soal Sepinya Pasar Satwa, hingga Upayakan Strategi Ini untuk Dongkrak Kunjungan

Dia menilai memang sudah semestinya ada regenerasi pada anak-anak yang lebih muda. 

Hanya saja diakui ini bukan perkara mudah karena belum ada yang benar-benar tertarik. 

"Saya terpilih karena mencoba, bisa, dan diterima. Buatan saya dianggap bagus, lalu ya sudah saya diminta membuat hingga sekarang,"  terangnya.

Tolo menilai tidak perlu ada keahlian khusus dalam membuat boneka bekakak, karena dia sendiri belajar secara otodidak.

Hal terpenting adalah minat karena biasanya anak yang tertarik akan terus hadir dan melihat dari tahun ke tahun untuk ikut belajar.

Kalau pun sosoknya adalah pekerja seni yang selaras seperti pembuat parung, dia nilai juga akan semakin baik.

Hanya saja sampai saat ini dia belum menemukan sosok tersebut. 

"Harapan regenerasi ya pasti ada, tapi nyatanya sulit," keluhnya. 

Baca Juga: Pedagang PASTHY Jogja Keluhkan Kunjungan Ramai Tapi Tidak Ada Pembeli

Prosesi bekakak ini akan diselenggarakan pada Jumat (17/7/2026) sore. Nantinya bagian tubuh kedua boneka bekakak akan dibagikan kepada masyarakat. 

Tolo mengaku zaman dahulu tubuh boneka ini memang dikonsumsi masyarakat, tetapi untuk saat ini sudah jarang.

"Buat apa kurang tahu. Tergantung masing-masing," tandasnya. (del/laz) 

Editor : Herpri Kartun
Sumber : Radar Jogja
Sugiyantoro Tolong bekakak Gamping pengantin