Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Pedagang PASTHY Jogja Keluhkan Kunjungan Ramai Tapi Tidak Ada Pembeli

I
Penulis: Iwan Nurwanto❯
Salah satu pedagang burung di PASTHY, Mujiharjo saat merawat dagangannya Kamis (16/7/2026). Kondisi penjualan saat satwa saat ini tergolong sepi. (Foto: Iwan Nurwanto/Radar Jogja) 
Salah satu pedagang burung di PASTHY, Mujiharjo saat merawat dagangannya Kamis (16/7/2026). Kondisi penjualan saat satwa saat ini tergolong sepi. (Foto: Iwan Nurwanto/Radar Jogja) 

Advertisement

 JOGJA - Pedagang Pasar Aneka Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta (PASTHY) mengeluhkan lesunya aktivitas ekonomi di balik ramainya kunjungan. Para pedagang menyebut mayoritas pengunjung hanya melihat-lihat tanpa membeli komoditas yang dijual.

Hal itu yang dirasakan Mujiharjo, salah satu pedagang burung ini mengungkapkan bahwa penurunan penjualan dirasakan pasca pandemi Covid-19. Kemudian kondisinya terus merosot hingga saat ini. 

Pria yang sudah berjualan di PASTHY dari 2010 atau sejak resmi dipindah dari Pasar Ngasem ini mengungkap betapa sulitnya kondisi pasar. Dalam satu bulan terkadang ia hanya mampu menjual satu hingga tiga ekor burung saja.

Advertisement

“Mulai sejak Covid itu. Tidak pasti laku,” ujar Mujiharjo saat ditemui Radar Jogja di kiosnya, Kamis (16/7/2026).

Pedagang berusia 61 tahun itu juga menyoroti ramainya pengunjung saat momentum akhir pekan. Dulu, hari Sabtu dan Minggu merupakan momen puncak perputaran ekonomi di pasar satwa. Namun sekarang justru hanya ramai pengunjung yang sekedar melihat-lihat tanpa melakukan transaksi pembelian.

Advertisement

Menghadapi situasi tersebut, ia berharap adanya perhatian dan intervensi dari pemerintah. Misalnya dengan promosi kembali PASTHY agar semakin mendongkrak daya beli masyarakat ke pasar tradisional.

"Harapan saya cuma pasar bisa tambah ramai dan laku kembali jualannya,” terang Mujiharjo.

Kondisi serupa juga dirasakan petugas parkir di PASTHY, Suradal mengungkapkan, meski kunjungan pasar disebut ramai saat akhir pekan, kondisi itu masih tergolong sepi. Lantaran jauh berbeda jika dibandingkan sebelum masa pandemi Covid-19.

Dia menyebut kunjungan pasar mengalami penurunan drastis pasca ada pembatasan aktivitas dan penutupan pasar di masa pandemi. Kondisi sepinya pengunjung otomatis berimbas langsung pada pendapatan sektor parkir.

“Sekarang (pendapatan parkir) tidak bisa dipastikan, seharian penuh pas ramai paling cuma sekitar Rp 280 ribu. Itu disetor dan dibagi-bagi, karena kami sistem upahnya bulanan,” bebernya.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar JogjaIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Harga Tepung Kanji Melonjak Rp19 Ribu, Penjual Cilok di Jogja Menjerit

Harga Tepung Kanji Melonjak Rp19 Ribu, Penjual Cilok di Jogja Menjerit

Kenaikan harga tepung kanji hingga Rp19.000 per kg membuat pedagang cilok dan sotong di Kota Jogja pasrah. Porsi tak dikurangi, namun margin keuntungan merosot tajam akibat tingginya modal produksi.

Oase Malioboro, Ibarat Menonton Bioskop: Buka Panggung Seniman Lokal Bakal Jadi Destinasi Baru

Oase Malioboro, Ibarat Menonton Bioskop: Buka Panggung Seniman Lokal Bakal Jadi Destinasi Baru

Oase Malioboro hadir sebagai destinasi wisata baru di Kota Jogja yang membuka ruang kolaborasi bagi seniman dan pelaku industri kreatif DIJ untuk menampilkan karya. Destinasi yang memadukan seni, budaya, edukasi, dan ..

Disiapkan Jadi Percontohan Nasional, Kota Jogja Gencarkan Edukasi Politik Perkuat Indeks Demokrasi

Disiapkan Jadi Percontohan Nasional, Kota Jogja Gencarkan Edukasi Politik Perkuat Indeks Demokrasi

Pemerintah Kota Yogyakarta kian mengintensifkan program pendidikan politik bagi warganya seiring ditunjuknya daerah ini sebagai calon proyek percontohan nasional untuk pengukuran indeks demokrasi di level kabupaten..

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer