SLEMAN - Masjid Agung dr. Wahidin Soedirohoesodo Sleman dilengkapi dengan bangunan menara ikonik dengan tinggi mencapai 68 meter. Sayangnya, bangunan yang diresmikan pada 22 Februari 2019 silam ini mengalami sejumlah kerusakan, bahkan berpotensi membahayakan para jemaah.
Pantauan Radar Jogja di lokasi eternit masjid banyak yang lepas sehingga rangka besi di dalamnya bisa terlihat. Begitu juga dengan keramik pada dinding menara. Pada ketiga sisi bangunan sebenarnya telah dipasang spanduk dan poster peringatan.
Tulisannya, "Dilarang mendekati area menara masjid agung apabila ada angin dan hujan". Spanduk dengan gambar bangunan rontok itu meminta agar orang-orang menjauh dari area tersebut demi keselamatan bersama.
Wakil Ketua 3 Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Sleman Muhyi Darmaji menjelaskan, rusaknya bangunan memang dimulai pada musim hujan yang lalu. Intensitasnya yang tinggi dan disertai angin kencang membuat keramik, asbes, hingga eternit berterbangan lalu jatuh ke bawah.
Baca Juga: Ruben Amorim Siap Jemput Langsung Luka Modric Agar Mau Perpanjang Kontrak dengan AC Milan
"Alhamdulillah tidak ada yang kena dari dampak jatuhnya barang-barang yang dari atas itu," katanya ditemui di ruang kerjanya di dalam menara Masjid Agung dr. Wahidin Soedirohoesodo Sleman, Kamis (9/7).
Menurutnya, rontoknya bagian bangunan menara ini dipengaruhi hujan dan panas. Ketahanan keramik yang ditempel secara vertikal ini lama-kelamaan berkurang hingga akhirnya retak dan rontok.
Kerusakan sendiri dia sebut juga baru terjadi tahun ini. Sementara soal pemasangan spanduk peringatan, dia sebut baru dilakukan jelang pemberangkatan haji yang lalu.
Hal ini mempertimbangkan banyaknya masyarakat yang akan datang di lingkungan masjid. Spanduk ini adalah langkah mitigasi agar orang-orang menjadi awas apabila ada barang yang rontok ketika ada angin atau hujan.
Menurut Muhyi, memang kerusakan pada bangunan yang ada hingga kini belum ada perbaikan. Hanya saja telah ada sejumlah tinjauan dari organisasi perangkat daerah terkait rencana renovasi ke depan. Perbaikan ini memang sangat dibutuhkan termasuk untuk lift yang hingga kini rusak dan tidak bisa dipakai.
"Dari kunjungan itu juga dinyatakan jangan di dekat bangunan ini kalau hujan dan angin. Tapi sejauh sejauh mana tingkat kerusakannya itu kami memang tidak tahu," katanya.
Menara Masjid Agung dr. Wahidin Soedirohoesodo Sleman ini sendiri digunakan sebagai sekretariat oleh sejumlah lembaga keagamaan setempat. Lantai satu untuk Ikatan Persaudaraaan Haji Indonesia (IPHI) lalu lantai dua untuk Baznas.
Sementara lantai tiga untuk tiga organisasi, yakni Majelis Ulama Indonesia (MUI), Dewan Masjid Indonesia (DMI), hingga Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur'an (LPTQ). Lalu di lantai empat dia sebut tidak bisa digunakan karena posisinya sangat tinggi dan dinilai berisiko hingga akhirnya hanya digunakan sebagai gudang.
"Kalau naik terus ada ruang kaca untuk bisa melihat pemandangan, tapi kami sendiri enggak berani naik karena berisiko juga," ujarnya.
Baca Juga: Tabrakan Beruntun Libatkan Enam Kendaraan di Jalan Magelang-Jogja, Lalu Lintas Sempat Lumpuh
Dia berharap mereka yang sehari-hari menggunakan bangunan ini bisa tetap aman karena sebenarnya secara struktur menara ini masih kokoh. Apalagi saat ini juga sudah jarang terjadi hujan dan angin.
"Tentu jangan sampai ada risiko yang memberikan dampak bagi orang yang ditimbulkan karena tertimpa barang-barang itu," harapnya.
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kabupaten Sleman Wiyato Widodo memastikan struktur bangunan menara masih kuat dan tidak rawan roboh. Pemasangan spanduk peringatan dilakukan agar masyarakat berhati-hati apabila ada hujan maupun angin.
"Kami juga ada rencana perbaikan yang dimungkinkan tahun depan. Saat ini sedang proses pengusulan," katanya. (del)
Editor : Bahana.