Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Daging Masuk Sleman dalam Bentuk Porong, RPH Setempat Hanya Potong Tiga sampai Lima Ekor Sapi Per Hari

Delima Purnamasari • Minggu, 21 Juni 2026 | 21:15 WIB
Kepala UPTD Pasar Hewan Ambarketawang dan RPH Yuda Andi Nugroho. (Delima Purnamasari/Radar Jogja)
Kepala UPTD Pasar Hewan Ambarketawang dan RPH Yuda Andi Nugroho. (Delima Purnamasari/Radar Jogja)
 
SLEMAN - Pemotongan sapi di Rumah Potong Hewan (RPH) Mancasan di Condongcatur, Depok, Sleman melayani pemotongan pada pukul 23.00 hingga 03.00 dini hari untuk memenuhi kebutuhan daging segar. Namun, jumlah sapi yang dipotong hanya tiga hingga lima ekor saja setiap harinya. 
 
Kepala UPTD Pasar Hewan Ambarketawang dan RPH Yuda Andi Nugroho menjelaskan, untuk tarif retribusi penyembelihan sebenarnya cukup terjangkau. Sapi jantan Rp 30 ribu sementara sapi betina Rp 60 ribu karena ada pemeriksaan alat reproduksi untuk memastikan sapi sudah tidak produktif. Lalu nantinya ditambah biaya pemotongan daging yang disesuaikan dengan jagal. 
 
Baca Juga: Angka Putus Sekolah di Kota Jogja Menyusut, Sisakan Tiga Anak Tahun Ini
 
"Di RPH kami juga menyediakan dokter hewan untuk pengawasan dari sebelum hingga sesudah dipotong. Jadi dagingnya benar-benar memenuhi syarat untuk diedarkan," katanya Minggu (21/6). 
 
Dengan jumlah tiga sampai lima ekor sehari jelas tidak masuk akal untuk memenuhi kebutuhan Bumi Sembada yang sudah tembus satu juta orang. Yuda menyebut, kondisi ini terjadi karena kebanyakan yang masuk di Sleman sudah dalam bentuk daging potong. Mulai dari Bantul, Magelang, Boyolali, hingga daging impor. 
 
"Dari saya 2010 memang rata-rata segitu. Kenaikan pemotongan saat hari raya saja, korban paling satu dua hari habis itu normal lagi," ujarnya. 
 
Baca Juga: Bangunan Baru SD Negeri Bugel Sudah Rusak, Genteng Rontok Hingga Siswa Terkunci di Kamar Mandi
 
Untuk bisa menaikkan angka pemotongan di Kabupaten Sleman dia sebut tidak serta-merta menambah tukang jagal. Harus ada rantai yang kuat pada sektor-sektor yang saling memengaruhi. Mulai dari suplier sapi, pemotong, hingga pemasaran yang kuat. Apalagi mengingat setiap bagian sapi yang harus dimanfaatkan secara berbeda. Misalnya, pedagang bakso yang cenderung membeli daging dan tulang. Sementara bagian lainnya tetap harus dipikirkan pemanfaatannya agar rantai antarsektor ini bisa terus berjalan. 
 
"Kebanyakan pedagang daging itu hanya ambil dari yang sudah jalan, 10 atau 20 kilo. Kalau mulai dari hulu atau sapi hidup itu lebih berisiko," ujarnya. (del) 
Editor : Sevtia Eka Novarita
#Rumah Potong Hewan (RPH) Mancasan #sapi #daging #condongcatur #retribusi