SLEMAN – Gunung Merapi masih berada pada tingkat aktivitas Level III (Siaga) per 20 Juni 2026. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat terjadi 113 kali guguran lava dan 64 gempa hybrid dalam 24 jam pengamatan.
Menurut laporan Magma-VAR BPPTKG, selama periode pengamatan 00.00–24.00 WIB, visual gunung tertutup kabut 0-III dan asap kawah tidak teramati. Angin bertiup tenang ke arah barat dengan suhu udara 17,1–27°C.
Detail Kegempaan Merapi 20 Juni 2026:
Guguran: 113 kali (amplitudo 2–39 mm, durasi 43,71–188,22 detik)
Hybrid/Fase Banyak: 64 kali (amplitudo 2–31 mm, durasi 7,56–60,71 detik)
Vulkanik Dangkal: 1 kali (amplitudo 80 mm, durasi 21,48 detik)
Baca Juga: ArtJog Bukan Sekadar Pesta Seni: Kritik Ekonomis vs Ideologis Mengemuka di Tengah Publik
BPPTKG juga mencatat 26 kali guguran lava mengarah ke Kali Krasak, Kali Bebeng, Kali Sat/Putih, dan Kali Boyong dengan jarak luncur maksimum 2.000 meter.
Rekomendasi BPPTKG:
Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas guguran (APG) di sektor selatan-barat daya:
Sungai Boyong maksimal 5 km
Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng maksimal 7 km
Sektor tenggara: Sungai Woro maksimal 3 km, Sungai Gendol 5 km
Lontaran material vulkanik jika terjadi letusan eksplosif dapat mencapai radius 3 km dari puncak. Masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas di daerah potensi bahaya dan mewaspadai lahar serta APG saat hujan turun di sekitar Merapi.
"Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung yang dapat memicu terjadinya awan panas guguran di dalam daerah potensi bahaya," jelas laporan BPPTKG.
Masyarakat juga diimbau mengantisipasi gangguan abu vulkanik dan selalu mengikuti informasi resmi dari PVMBG dan BPPTKG. Tingkat aktivitas Gunung Merapi akan ditinjau kembali jika terjadi perubahan signifikan. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin