Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Misteri Rumah Api Seyegan Sleman Memasuki Babak Baru, Tim Peneliti UGM Temukan Jejak PVC di Lokasi Kejadian 

Fahmi Fahriza • Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:34 WIB
Sesi konferensi pers yang dilakukan oleh FT UGM terkait fenomena rumah api di Seyegan. (Fahmi Fahriza/Radar Jogja) 
Sesi konferensi pers yang dilakukan oleh FT UGM terkait fenomena rumah api di Seyegan. (Fahmi Fahriza/Radar Jogja) 

 

SLEMAN - Fenomena kemunculan api secara misterius di rumah Agus Yani di Padukuhan Kasuran, Kalurahan Margodadi, Kapanewon Seyegan, Sleman, masih masih menjadi perhatian publik.

Sejumlah penelitian menyebut bahwa api tersebut berasal dari gas metana dari dalam tanah.

Namun Tim Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (FT UGM) memastikan bahwa api bukan berasal dari rembesan gas alam maupun fenomena pembakaran spontan yang terjadi secara alami.

Ketua Tim PKPE FT UGM Prof Ir Alva Edy Tontowi menjelaskan, bahwa berbagai metode ]digunakan dalam penelitian tersebut.

Baca Juga: PSIM Jogja Sudah Lepas Sejumlah Pemain, Van Gastel Masih Matangkan Komposisi Laskar Mataram Untuk Super League 2026/2027

Mulai dari pengukuran medan elektromagnetik, pemetaan bawah permukaan menggunakan georadar dan geolistrik, pengamatan termal menggunakan drone, hingga analisis residu kebakaran di laboratorium.

Adapun serangkaian penelitian dilakukan sejak kemunculan api pertama pada Jumat (22/5/2026) malam.

Proses penelitian, tim PKPE FT UGM sedikitnya empat kali mendatangi lokasi, dengan kunjungan terakhir pada Jumat (12/6/2026). 

Dari seluruh rangkaian pengujian itu, tim FT UGM tidak menemukan bukti adanya rembesan gas alam dari bawah tanah maupun gas yang dapat menyala sendiri pada suhu normal.

"Pemantik elektromagnetik terukur di level aman, yang berarti bukan pemantik nyala api.

Sumber gas alam rembesan dari bawah permukaan juga tidak ditemukan. Tidak ada anomali termal dan tim tidak menemukan gas yang bisa menyala sendiri secara alami atau self-ignition pada suhu kamar,"  kata Alva, Sabtu (13/6/2026).

Baca Juga: Prediksi Skor Brasil vs Maroko Piala Dunia Grup C Minggu 14 Juni 2026 Kick Off 05.00 WIB, Siapa Pemenangnya?

Diakuinya, tim peneliti FT UGM juga memastikan area penelitian tidak hanya terbatas pada bangunan rumah yang terbakar.

Berbagai pengukuran dilakukan hingga radius sekitar 200 meter dari lokasi kejadian untuk melihat kemungkinan adanya fenomena serupa di sekitar rumah.

Anggota Tim PKPE FT UGM Prof Dr. Ir. Leni S Heliani mengatakan, bahwa hasil pemetaan menunjukkan kemunculan api hanya terjadi di rumah Agus Yani dan tidak ditemukan indikasi serupa di area sekitarnya.

"Detail sampel dan lain sebagainya kami ambil di sekitar rumah itu. Sebelumnya kami juga melakukan pengukuran, baik citra thermal maupun geolidar, sampai jarak sekitar 200 meter," ujarnya.

Menurut Leni, tim bahkan membuat denah rumah dan memetakan titik-titik kemunculan api selama proses penelitian berlangsung.

"Kami menetapkan titik-titik api dan posisi-posisi titik api. Itu hanya fokus di rumah tersebut. Tidak ada kemudian di luar atau di rumah tetangga dan lain sebagainya," tambahnya.

Baca Juga: Susunan Pemain Resmi Timnas Indonesia Lawan Kamboja di Piala AFF U19 2026, Persaingan untuk Perebutan Juara Ketiga

Setelah berbagai kemungkinan penyebab alami tidak terbukti, tim kemudian melakukan analisis terhadap residu yang tersisa pada titik-titik kebakaran.

Pengujian menggunakan metode Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR) menemukan jejak material yang mengandung resin polyvinyl chloride (PVC).

Penuturan tambahan juga datang dari anggota Tim PKPE FT UGM Dr. Sarju Winardi, ia menjelaskan sampel terakhir diambil pada Jumat (12/6) dan langsung dianalisis di laboratorium pada hari yang sama.

"Jumat pagi kami ambil sampel, dan sore sudah keluar hasilnya. Kami diskusi untuk menyimpulkan, karena kesimpulan kami sudah cukup kuat bahwa sumber api bukan gas alam, tetapi ada substansi yang mudah terbakar di lokasi itu," katanya.

Menurut Sarju, material yang ditemukan bukan PVC dalam bentuk pipa sebagaimana yang umum dikenal masyarakat. Tim menduga material tersebut berasal dari suatu bahan yang mengandung resin PVC dan bercampur dengan pelarut atau solvent yang mudah terbakar.

Ketika pelarut tersebut menguap dan terbakar, material itu meninggalkan residu yang kemudian ditemukan dan dianalisis oleh tim peneliti.

Baca Juga: Prediksi Qatar vs Swiss Piala Dunia 2026 Grup B Minggu 14 Juni Kick Off 02.00 WIB, Siapa Pemenangnya?

"Jadi prinsipnya kami selesai pada tahap menemukan sumber dari api. Sekali lagi bukan gas alami, tetapi ada satu substansi yang ditemukan sebagai residu di tempat terbakar, yaitu residu polyvinyl chloride atau PVC," ujarnya.

Sarju menjelaskan residu tersebut ditemukan tepat pada titik-titik yang sebelumnya mengalami kebakaran, bukan di bagian rumah lain yang tidak terdampak api.

"Lokasinya tepat di tempat terbakarnya. Ada paku yang di situ dicantelkan kain-kain yang terbakar, nah kami ambil sampel residunya di titik itu yang masih tersisa. Bukan di tempat lain yang tidak terbakar," jelasnya.

Meski menemukan jejak material yang mudah terbakar, tim belum dapat memastikan apa yang menjadi pemantik awal munculnya api.

Menurut Sarju, keberadaan bahan mudah terbakar saja tidak cukup untuk menimbulkan kebakaran tanpa adanya sumber pemantik.

Baca Juga: Pemkab Kulon Progo Lega Bila Wacana Kelonggaran UU HKPD Benar Terjadi

"Pemantik mestinya ada, karena kalau tidak dipantik dia tidak akan terbakar. Nah pemantiknya apa, ini akan ditindaklanjuti oleh tim BPBD. Kami tidak pada langkah untuk menyelidiki lebih lanjut," tegasnya.

Dengan hasil tersebut, Tim PKPE FT UGM menyatakan penelitian yang mereka lakukan telah selesai.

Selanjutnya seluruh hasil kajian diserahkan kepada BPBD Sleman untuk ditindaklanjuti lebih lanjut, termasuk menelusuri kemungkinan sumber pemantik yang menyebabkan api muncul berulang kali di rumah tersebut. (iza)

Editor : Meitika Candra Lantiva
#Rumah Agus Yani Seyegan #tim peneliti UGM #Misteri Rumah Api Seyegan #Sleman #PVC