SLEMAN - Meski titik api misterius di rumah warga Seyegan telah muncul hingga 123 kali sejak akhir Mei hingga Rabu (10/6/2026), Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman belum menetapkan status darurat. Ini karena sumber masalah masih dilakukan penelitian untuk mencari penyebab api terus muncul.
Bupati Sleman Harda Kiswaya mengatakan, pemkab belum menetapkan status darurat atas kejadian tersebut, meski sudah berlangsung lama. Ini karena dampakanya tidak meluas, pun pemilik rumah juga masih dimungkinkan tinggal di lantai dua.
Saat ini pemerintah baru bisa mensuplai bantuan berupa logistik. Apabila diperlukan bisa diberikan bantuan pendampingan psikologis karena dikhawatirkan mengalami tekanan dalam menghadapi teror api ini.
"Belum ada rencana memberi bantuan lain karena harus ditelaah lebih lanjut seperti apa penyebabnya. Untuk mengeluarkan uang negara tidak mudah," katanya saat ditemui di kantornya, kemarin (10/6).
Atas kejadian ini berbagai peneliti telah turun. Mulai dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta (UPNVY), hingga Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Upaya penelusuran lewat ilmu pengetahuan ini dia sebut penting untuk menjawab pertanyaan kenapa api terpusat di salah satu rumah dan mengapa baru mulai muncul akhir-akhir ini.
"Semoga ke depan bisa segera terjawab apa yang jadi penyebabnya," ujarnya.
Terpisah, Dekan Fakultas Teknologi Mineral dan Energi (FTME) UPNVY Basuki Rahmad menjelaskan, timnya serius menangani kasus ini dengan pendekatan geologi. Sumber dicurigai berasal dari Sungai Nepen yang berjarak 300 meter dari rumah.
Di sana ditemukan endapan batuan lanau yang mengandung gas alami, termasuk di dalamnya adalah gas metana. Hal ini dikuatkan dengan informasi dari warga bahwa rumpun bambu di sekitar sungai sebelumnya juga pernah terbakar.
"Di sana kami juga temukan gelembung gas yang tidak lazim," bebernya.
Saat melakukan penyusuran sungai juga ditemukan struktur rekahan. Asumsinya memang ada sumber gas yang bermigrasi karena sudah jenuh dan terakumulasi di bawah rumah. Walau demikian, disebut memang ada berbagai sudut pandang yang bisa digunakan dalam memahami fenomena ini.
Sementara itu, pakar dari Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Handoko Teguh Wibowo menyebut, dalam penanganan gas liar bertekanan rendah membutuhkan utilitas khusus. Untuk nantinya bisa dilepaskan dan tidak lagi jenuh di dalam tanah.
Baca Juga: Kawasan Ratu Boko Disiapkan Jadi Sirkuit Balap, KONI DIY Harapkan Dukungan Penuh dari Pemprov
"Jika ditahan, gas tersebut akan mencari jalan keluar lain secara agresif. Jadi harus membuat sistem utilisasi untuk mengonsentrasikannya," jelasnya.
Salah satunya dengan pembuatan sumur untuk bisa menyedot gasnya menggunakan kompresor. Gas tersebut lalu ditampung dalam sebuah tangki. Langkah tanggap darurat ini sebagai upaya mengamankan area rumah yang terdampak.
"Nantinya jika konsentrasinya bagus bisa dimanfaatkan atau kalau tidak bisa di-flare atau dibakar secara aman," tambahnya. (del/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita