SLEMAN – Gunung Merapi kembali menunjukkan aktivitas signifikan. Sepanjang Senin (9/6/2026), Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat satu kali awan panas guguran dengan jarak luncur hingga 2.000 meter ke arah barat daya.
Menurut laporan aktivitas gunung api periode 00.00–24.00 WIB, visual Merapi masih teramati jelas meski sesekali diselimuti kabut.
Asap kawah bertekanan lemah berwarna putih tebal mencapai tinggi 75 meter di atas puncak kawah.
Baca Juga: Roberto Martinez Klaim Cristiano Ronaldo Tidak Memikirkan Perpisahan dengan Portugal
Selama periode pengamatan, BPPTKG mencatat:
1 Awan Panas Guguran (amplitudo 26 mm, durasi 136,83 detik)
141 Guguran lava (amplitudo 2–42 mm)
66 Gempa Hybrid/Fase Banyak
5 Gempa Vulkanik Dangkal
1 Gempa Tektonik Jauh
Guguran lava teramati 25 kali mengarah ke barat daya (Kali Sat/Putih, Kali Bebeng, dan Kali Krasak) dengan jarak luncur maksimum 2.000 meter.
Cuaca di sekitar puncak cerah hingga mendung dengan angin bertiup tenang ke arah timur dan barat.
Suhu udara berkisar 14,1–24,7 °C.
Baca Juga: CBF Ungkap Pemulihan Cedera Neymar Memberikan Perkembangan Yang Positif Jelang Piala Dunia 2026
Tingkat aktivitas Gunung Merapi masih berada pada Level III (Siaga).
Rekomendasi resmi BPPTKG:
Potensi bahaya utama berupa guguran lava dan awan panas guguran (APG) pada sektor selatan-barat daya meliputi Sungai Boyong (maksimal 5 km), Sungai Bedog, Krasak, Bebeng (maksimal 7 km). Sektor tenggara meliputi Sungai Woro (3 km) dan Sungai Gendol (5 km).
Lontaran material vulkanik jika terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.
Masyarakat dilarang melakukan aktivitas apapun di dalam daerah potensi bahaya.
Waspada bahaya lahar dan awan panas guguran terutama saat hujan di sekitar Merapi.
Antisipasi gangguan abu vulkanik.
Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung, sehingga potensi awan panas guguran masih tinggi di dalam daerah bahaya.
Masyarakat diimbau selalu mengikuti informasi resmi dari BPPTKG dan PVMBG serta tidak terprovokasi oleh berita palsu atau spekulasi yang beredar.
Laporan disusun oleh Ngadiyo dan Yulianto berdasarkan data KESDM – Badan Geologi – PVMBG.Sumber: Magma ESDM & BPPTKG
Editor : Iwa Ikhwanudin