Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Gunung Merapi Siaga Level III: 1 Awan Panas Guguran dan 120 Guguran Lava Terjadi, Jarak Luncur Capai 2.000 Meter

I
Penulis: Iwa Ikhwanudin❯
Merapi luncurkan Wedhus Gembel atau Awan panas guguran (APG) Minggu (8/2/2026) pukul 03.01 WIB. Tertekam dari CCTV Jurangjero.
Merapi luncurkan Wedhus Gembel atau Awan panas guguran (APG) Minggu (8/2/2026) pukul 03.01 WIB. Tertekam dari CCTV Jurangjero.

Advertisement

 SLEMAN – Gunung Merapi kembali menunjukkan aktivitas yang signifikan. Sepanjang periode pengamatan 13 Juli 2026, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat berbagai kejadian kegempaan yang mengindikasikan suplai magma masih berlangsung di gunung api paling aktif di Jawa ini.

Menurut laporan resmi Magma-VAR dari KESDM dan PVMBG, cuaca di sekitar Merapi cerah dengan angin tenang ke arah timur. Suhu udara berkisar 15,1–16,9 °C, kelembaban 72–78,3 persen, dan tekanan udara 874,3–918,3 mmHg. Secara visual, gunung terlihat jelas tanpa asap kawah yang signifikan.

Meski demikian, aktivitas kegempaan cukup tinggi. Sepanjang 24 jam tersebut, tercatat 1 kejadian awan panas guguran dengan amplitudo 19 mm dan durasi 109,99 detik. Awan panas ini mengarah ke Kali Boyong dan Kali Krasak dengan jarak luncur maksimum 2.000 meter.

Advertisement

Selain itu, petugas juga mengamati 120 kali guguran lava dengan amplitudo 2–61 mm dan durasi bervariasi hingga 189,67 detik. Sebanyak 31 di antaranya teramati mengalir ke arah Barat Daya, meliputi Kali Sat/Putih, Kali Krasak, dan Kali Boyong, dengan jarak luncur maksimum juga mencapai 2.000 meter.

Gempa hybrid/fase banyak tercatat sebanyak 66 kali, sementara gempa tektonik jauh terjadi 3 kali. Data ini semakin memperkuat indikasi bahwa proses intrusi magma di dalam tubuh Gunung Merapi masih aktif, berpotensi memicu awan panas guguran susulan.

Advertisement

Status Gunung Merapi saat ini tetap pada Level III (Siaga). Potensi bahaya utama berupa guguran lava dan awan panas guguran (APG) masih mengancam sektor selatan-barat daya. Sungai Boyong dibatasi maksimal 5 km, sementara Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga 7 km. Di sektor tenggara, Sungai Woro dibatasi 3 km dan Sungai Gendol 5 km. Apabila terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik bisa mencapai radius 3 km dari puncak.

PVMBG mengimbau masyarakat dan wisatawan untuk tidak melakukan aktivitas apapun di dalam daerah potensi bahaya. Kewaspadaan terhadap bahaya lahar dan awan panas guguran harus ditingkatkan, terutama saat hujan turun di sekitar Merapi. Abu vulkanik juga berpotensi mengganggu aktivitas sehari-hari, termasuk kesehatan pernapasan dan transportasi.

"Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung. Masyarakat diharapkan selalu mengikuti informasi resmi dari BPPTKG dan PVMBG," ujar petugas dalam laporan.

Hingga saat ini, tidak ada laporan korban jiwa maupun kerusakan infrastruktur akibat aktivitas terbaru ini. Namun, kesiapsiagaan tetap menjadi prioritas utama bagi warga di lereng Merapi dan wilayah rawan di Sleman, Magelang, Boyolali, serta Klaten.

Pemantauan terus dilakukan secara intensif. Masyarakat diimbau mengantisipasi segala perubahan aktivitas yang mungkin terjadi. Informasi terkini selalu dapat diakses melalui situs resmi Magma ESDM dan akun media sosial PVMBG.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar JogjaIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Pantau Kemiskinan hingga Bencana secara Real-Time, Bupati Endah Ingin Gunungkidul Punya War Room

Pantau Kemiskinan hingga Bencana secara Real-Time, Bupati Endah Ingin Gunungkidul Punya War Room

Melonjak Signifikan, Indeks SPBE Kabupaten Gunungkidul Sukses Tembus Angka 4,07 Capaian SPBE Gunungkidul Meroket, Sekda Sri Suhartanta: Bukti Kerja Terpadu Seluruh OPD Terapkan Prinsip Better, Faster, Cheaper, Nilai Ko

Perkuat Kerja Sama Vulkanologi 50 Tahun, Indonesia-Prancis Riset Mitigasi Bencana Geologi di Merapi

Perkuat Kerja Sama Vulkanologi 50 Tahun, Indonesia-Prancis Riset Mitigasi Bencana Geologi di Merapi

Dubes Prancis untuk Indonesia bersama CEO IRD saat mengunjungi Pos Pengamatan Gunung Merapi Babadan, Sabtu (6/6).

Dua Dekade Pascagempa Bantul, Bupati Sebut Potensi Bencana Tak Bisa Dihilangkan tapi Risiko Bisa Dikurangi

Dua Dekade Pascagempa Bantul, Bupati Sebut Potensi Bencana Tak Bisa Dihilangkan tapi Risiko Bisa Dikurangi

Bupati Abdul Halim Muslih: Punya Pengalaman Sejarah, Mestinya Bantul Lebih Tangguh dan Siaga Bencana Bupati Bantul: Kita Tidak Bisa Mencegah Bencana, yang Bisa Dilakukan Adalah Mengurangi Risiko Dampaknya

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer