Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Bukan Gas Metana, Titik Api Seyegan Diduga dari Hidrogen: Begini Penjelasan Detail dari Tim Peneliti UGM

Delima Purnamasari • Kamis, 4 Juni 2026 | 20:14 WIB
Anggota Tim Peneliti UGM dari Departemen Teknik Geologi dan Lingkungan (DTGL), Sarju Winardi. Delima Purnamasari/Radar Jogja
Anggota Tim Peneliti UGM dari Departemen Teknik Geologi dan Lingkungan (DTGL), Sarju Winardi. Delima Purnamasari/Radar Jogja

SLEMAN - Tim peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) menyimpulkan kemunculan titik api di rumah warga Seyegan, Sleman, dipicu anomali gas hidrogen yang diduga berasal dari fermentasi limbah pemotongan ayam. Ini berbeda dengan dugaan awal karena gas metana dari septiktang.

Anggota Tim Peneliti UGM dari Departemen Teknik Geologi dan Lingkungan (DTGL) Sarju Winardi mengatakan, dugaan sementara gas hidrogen ini muncul dari fermentasi limbah organik dari usaha pemotongan ayam selama bertahun-tahun. Material itu kemudian berasosiasi dengan beberapa jenis bakteri dan menghasilkan gas hidrogen yang merembes ke dalam tanah di bawah rumah. 

"Hal ini karena limbah cukup banyak fosfatnya. Ini hipotetis kami," katanya ditemui di Kantor Kapanewon Seyegan, Kamis (4/6/2026). 

 Baca Juga: Menyusuri Dua Lokasi TKD yang Seret Lurah  Condongcatur Sleman Tersangka; Aktivitas di Gandok Lengang, Pringwulung Mati Suri

Temuan itu dilakukan saat tim UGM datang pada Senin (1/6/2026) membawa alat pengukuran khusus dan ditemukan adanya anomali gas hidorgen yang cukup tinggi di beberapa lokasi dalam rumah, seperti kamar mandi dan kamar tidur. Gas hidrogen terdeteksi sebesar 40 ppm, padahal normalnya hanya 5 ppm sebelum akhirnya gas cepat habis karena terbakar. 

Tim UGM kembali terjun pada Rabu (3/6/2026) dengan alat detektor gas milik tim ahli kimia. Hasilnya tidak ditemukan gas lain selain hidrogen yang mudah terbakar, bahkan angka yang muncul mencapai 2.500 ppm. 

"Deteksi gas dengan alat berbeda, waktu berbeda, tim berbeda menunjukkan anomali gas hidrogen yang tinggi," ucapnya. 

Baca Juga: Skuad Tim Nasional Spanyol Tanpa Pemain Real Madrid, Luis De La Fuente: Bagi Saya, Ini Sempurna

Pertanyaannya adalah bagaimana gas hidrogen ini bisa menyala karena titik bakarnya 500 derajat celsius. Dimungkinkan hal ini disebabkan karena ada asosiasi pada gas lain yang bisa terbakar pada suhu ruang, yakni gas fosfin. Gas ini diprediksi berasal dari material yang kaya fosfat, seperti tulang dan bulu binatang. Sayangnya, jenis gas ini tidak mudah terdeteksi karena begitu terkena gas oksigen maka langsung terbakar. 

Sebelumnya, tim pertama kali datang pada Sabtu (30/5/2026) dengan keterangan dari Tim Gegana Polda DIJ bahwa terdeteksi metana pada titik munculnya api. Saat itu mereka membawa kamera thermal untuk mencari anomali panas. Hal ini mengingat bahwa ada tiga syarat untuk terciptanya api, yakni ada bahan bakar, panas, dan oksigen. Sesuai dengan prinsip segitiga api. 

"Hasil dari kamera thermal tidak ditemukan anomali panas yang signifikan. Termasuk saat kami menerbangkan drone thermal," bebernya. 

Baca Juga: Dandan Hindayana Dicopot dari Kepala BGN, Ditetapkan Tersangka Dugaan Korupsi Proyek MBG

Atas temuan ini, sejumlah rekomendasi diberikan untuk penanganan kasus timbulnya titik api. Pertama, sirkulasi udara di rumah dibuka secara lebar agar gas hidrogen bisa keluar dan tidak melayang-layang di dalam rumah. Untuk itu bisa ditambahkan dengan pemasangan blower.

Lalu mengeluarkan barang-barang yang mudah terbakar karena gas hidrogen butuh media yang porous dan lembab untuk terjebak lalu terakumulasi. 

Tim UGM juga akan membantu melakukan penjenuhan cairan basa menggunakan air kapur pada tanah dan lantai rumah. Hal ini untuk menekan adanya bakteri Clostridium yang berperan dalam menghasilkan gas hidrogen. 

Menurut Sarju, gas hidrogen di rumah Seyegan keluar secara lambat, acak, dan jumlahnya tidak besar. Tidak diketahui pasti kapan dan lokasi gas akan muncul untuk akhirnya menimbulkan api. Tim UGM telah mencoba melakukan pemboran dangkal untuk melihat akumulasi ini, ternyata memang tidak besar. 

Baca Juga: Kasus Dugaan Malapraktik Dapat Perhatian Berbagai Instansi; Satgas PPA DIY Dampingi Keluarga Korban, ORI Siap Mengawal 

"Jadi memang ada akumulasi hidrogen dahulu baru keluar melayang karena sangat ringan lalu baru terbakar," terangnya. 

Sementara soal titik api yang sempat muncul di tetangga rumah, disebut karena ada barang dari rumah yang dikeluarkan dan diletakkan di dekat rumah tetangga itu. Barang berupa triplek ini diduga telah ditempeli oleh akumulasi gas hidrogen sehingga akhirnya terbakar. 

"Untuk potensi bahaya belum menemukan yang lebih luas. Jadi fokus di lokal itu," tandasnya. (del/wia

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#gas hidrogen #tim peneliti UGM #titik api #Seyegan #rumah warga