SLEMAN – Fenomena kemunculan api misterius di Padukuhan Kasuran, Margomulyo, Seyegan, Kabupaten Sleman menghebohkan masyarakat dalam beberapa pekan terakhir.
Api yang muncul secara tiba-tiba menimbulkan rasa khawatir sekaligus menjadi perhatian dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah hingga tim peneliti dari perguruan tinggi.
Peristiwa tersebut terjadi di rumah milik seorang warga bernama Mutfiana.
Baca Juga: Gelandang Manchester United Kobbie Mainoo Yakin 100 Persen Inggris Menang Piala Dunia 2026
Fenomena kemunculan api pertama kali dilaporkan pada akhir Mei 2026 dan terus berulang hingga awal Juni.
Dalam kurun waktu sekitar sepuluh hari, tercatat lebih dari 70 kali kemunculan api di berbagai titik rumah, seperti pakaian, sofa, kardus, boneka, hingga perabotan rumah tangga lainnya.
Menurut keterangan pemilik rumah, api sering muncul secara mendadak meskipun tidak terdapat sumber api terbuka di lokasi kejadian.
Bahkan, beberapa kebakaran terjadi ketika ruangan dalam keadaan kosong.
Baca Juga: Bersiaplah, Jersey Ikonik Piala Dunia 1958 milik Legenda Pele akan Dilelang, Segini Kisaran Harganya
Akibatnya, sejumlah barang mengalami kerusakan dan keluarga terpaksa meningkatkan kewaspadaan setiap saat.
Menanggapi kejadian tersebut, berbagai pihak melakukan penyelidikan untuk mengetahui penyebab pasti munculnya api.
Tim dari pemerintah daerah, kepolisian, BPBD, PLN, serta akademisi dari beberapa perguruan tinggi turun langsung ke lokasi guna melakukan pengamatan dan penelitian.
Baca Juga: Bersiaplah, Jersey Ikonik Piala Dunia 1958 milik Legenda Pele akan Dilelang, Segini Kisaran Harganya
Kepala Dinas PUPESDM DIY, Anna Rina Herbranti, memastikan fenomena tersebut bukan dipicu kandungan gas bumi maupun unsur mistis, melainkan rembesan gas metana dari septic tank yang terakumulasi di dalam bangunan.
Menurut Anna, kondisi tanah di wilayah Seyegan yang didominasi material vulkanik muda seperti pasir dan abu vulkanik membuat gas organik lebih mudah bergerak melalui pori-pori tanah dan rekahan kecil di bawah bangunan.
“Materi vulkanik muda tersebut tidak memiliki kemampuan menjadi batuan sumber maupun perangkap hidrokarbon,” ujarnya, Jumat (29/5/2026).
Sejumlah penelitian menunjukkan beberapa penyebab api muncul misterius dan membakar sejumlah benda.
1.Hasil Pemeriksaan Tim Gegana Polda DIY dan Tim Inafis Polresta Sleman
Dari hasil pemeriksaan juga menunjukkan sumber gas berasal dari septic tank dan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) yang berada di lingkungan rumah dengan saluran pembuangan yang tidak sesuai standar.
Akibatnya, gas metana tidak keluar ke udara bebas, tetapi justru merembes masuk dan terjebak di dalam rumah.
Meski penyebab ilmiah sudah ditemukan, petugas masih terus berjaga dan melakukan pemantauan 24 jam karena titik api baru masih muncul secara acak.
Baca Juga: Bupati Awards 2026, Pemkab Magelang Cari Orang-Orang Biasa dengan Karya Luar Biasa
2. Tim Peneliti Fakultas Geologi UPN Veteran Yogyakarta Temukan Indikasi Lain
Berdasarkan hasil pengamatan awal, sumber gas metana diduga berasal dari area sekitar 100 meter di sebelah timur rumah korban.
Lokasi tersebut merupakan kawasan jembatan, yang dialiri air di bawahnya.
Di dalam air tersebut, terindikasi adanya gas rawa yang bisa memicu api.
"Dari UPN justru terindikasi ada gas rawa sekitar 100 meter dari rumah. Dugaan sementara gas itu bisa sampai ke sini karena ada retakan tanah yang mengarah ke rumah," katanya.
Atas dasar temuan sementara tersebut, para peneliti merekomendasikan agar rumah dikosongkan sementara selama sekitar satu bulan untuk memudahkan proses observasi lebih lanjut.
3. Tim Peneliti Fakultas Teknik UGM Turut Melakukan Observasi Lapangan
Koordinator Tim Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik UGM Prof Alva Edy Tontowi mengatakan, timnya berkunjung ke rumah Agus Yani.
Namun kunjungan itu baru sekadar observasi awal dan belum sampai pada tahap pengambilan kesimpulan.
Menurutnya, tim yang diterjunkan terdiri atas sejumlah pakar lintas disiplin, mulai dari teknik mesin, teknik industri, teknik geologi, teknik sipil, teknik fisika hingga bidang nuklir.
"Fakultas Teknik UGM hari ini melakukan observasi awal. Kami ajak para ekspert dari berbagai bidang untuk melihat langsung kondisi di lapangan," ujarnya kepada Radar Jogja, Sabtu (30/5/2026).
Dalam kunjungan itu, tim juga melakukan pengamatan terhadap sejumlah titik yang sebelumnya dilaporkan menjadi lokasi munculnya api.
Namun, seluruh titik api telah padam ketika tim tiba di lokasi.
Prof Alva mengungkapkan dugaan sementara fenomena tersebut berkaitan dengan keberadaan gas yang mudah terbakar.
"Kalau dugaan awal, mungkin gas. Gas yang mudah terbakar atau flammable gas," katanya.
Namun demikian, ia menegaskan sumber maupun jenis gas yang dimaksud hingga kini masih belum dapat dipastikan.
Di lingkungan rumah korban sendiri terdapat sejumlah potensi sumber yang masih perlu diteliti lebih lanjut.
Mulai septic tank, instalasi pengolahan air limbah (IPAL), hingga kondisi bangunan yang relatif tertutup dengan ventilasi terbatas.
"Sumbernya belum tahu. Ada septic tank, ada IPAL yang usianya sudah cukup lama, lalu kondisi ruangan juga relatif tertutup. Potensinya kemungkinan gas, tetapi gas apa nanti harus kami lihat lebih lanjut," jelasnya.
Prof Alva mengatakan, observasi lapangan kali ini baru menjadi langkah awal sebelum tim melakukan pengambilan sampel untuk dilakukan analisis lanjutan di laboratorium.
Rencananya, tim Fakultas Teknik UGM akan kembali ke lokasi guna mengambil berbagai sampel yang diperlukan.
Selanjutnya sampel dibawa ke kampus dan dianalisis sesuai bidang keilmuan masing-masing.
Ia menegaskan, seluruh hasil yang nantinya disampaikan kepada publik akan didasarkan pada analisis ilmiah, bukan sekadar dugaan awal.
"Kalau sekarang ini masih hipotesis awal. Hasil yang nanti kami sampaikan adalah hasil yang sudah melalui analisis saintifik," bebernya. (Rahmawati Wulandari)
Editor : Meitika Candra Lantiva