SLEMAN - Misteri kemunculan api berulang di rumah milik Agus Yani di Padukuhan Kasulan, Kalurahan Margodadi, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, terus menjadi perhatian berbagai pihak.
Dalam sepekan terakhir, api dilaporkan muncul puluhan kali secara acak dan membakar berbagai benda mudah terbakar di dalam maupun sekitar rumah.
Setelah sebelumnya tim Gegana Polda DIY, Dinas ESDM DIY, dan sejumlah peneliti melakukan pemeriksaan, Sabtu (30/5/2026) pagi, tim dari Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) turut melakukan observasi lapangan untuk mengungkap penyebab fenomena tersebut.
Baca Juga: Komodifikasi Hantu dari Lokalisme Eksotis ke Industri Horor
Koordinator Tim Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik UGM Prof Alva Edy Tontowi mengatakan, bahwa kunjungan tersebut masih berupa observasi awal dan belum sampai pada tahap pengambilan kesimpulan.
Menurutnya, tim yang diterjunkan terdiri dari sejumlah pakar lintas disiplin, mulai dari teknik mesin, teknik industri, teknik geologi, teknik sipil, teknik fisika hingga bidang nuklir.
"Fakultas Teknik UGM hari ini melakukan observasi awal. Kami ajak para ekspert dari berbagai bidang untuk melihat langsung kondisi di lapangan," ujarnya pada Radar Jogja, Sabtu (30/5/2026).
Baca Juga: Pulang ke Belanda, Van Gastel Buka Peluang Temui Calon Pemain PSIM, Termasuk Hubungi Stefan de Vrij
Dalam kunjungan tersebut, tim juga melakukan pengamatan terhadap sejumlah titik yang sebelumnya dilaporkan menjadi lokasi munculnya api.
Namun, seluruh titik api telah padam ketika tim tiba di lokasi.
Meski demikian, berdasarkan hasil observasi awal, Prof. Alva mengungkapkan, terdapat dugaan sementara bahwa fenomena tersebut berkaitan dengan keberadaan gas yang mudah terbakar.
"Kalau dugaan awal, mungkin gas. Gas yang mudah terbakar atau flammable gas," katanya.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa sumber maupun jenis gas yang dimaksud hingga kini masih belum dapat dipastikan.
Baca Juga: Berikut Jadwal dan Daftar 23 Pemain Timnas Indonesia untuk Piala AFF U19 2026
Di lingkungan rumah korban sendiri terdapat sejumlah potensi sumber yang masih perlu diteliti lebih lanjut, mulai dari septic tank, instalasi pengolahan air limbah (IPAL), hingga kondisi bangunan yang relatif tertutup dengan ventilasi terbatas.
"Sumbernya belum tahu. Ada septic tank, ada IPAL yang usianya sudah cukup lama, lalu kondisi ruangan juga relatif tertutup. Potensinya kemungkinan gas, tetapi gas apa nanti harus kami lihat lebih lanjut," jelasnya.
Prof. Alva mengatakan, bahwa observasi lapangan kali ini baru menjadi langkah awal sebelum tim melakukan pengambilan sampel untuk dilakukan analisis lanjutan di laboratorium.
Rencananya, tim Fakultas Teknik UGM akan kembali ke lokasi pada awal pekan depan guna mengambil berbagai sampel yang diperlukan.
"Kemungkinan Senin kami kembali untuk ambil sampel. Setelah itu dibawa ke kampus dan dianalisis sesuai bidang keilmuan masing-masing," ujarnya.
Baca Juga: Kabar Baik bagi Arsenal Jelang Final Liga Champions Melawan PSG, Jurrien Timber Siap Tampil
Ia menegaskan, bahwa seluruh hasil yang nantinya disampaikan kepada publik akan didasarkan pada analisis ilmiah, bukan sekadar dugaan awal.
"Kalau sekarang ini masih hipotesis awal. Hasil yang nanti kami sampaikan adalah hasil yang sudah melalui analisis saintifik," katanya.
Secara pribadi, Prof. Alva mengungkapkan, informasi mengenai fenomena tersebut pertama kali diketahui tim Fakultas Teknik UGM melalui media sosial yang ramai membahas kejadian tersebut beberapa hari terakhir.
Dari diskusi internal yang berkembang di lingkungan kampus, muncul keinginan untuk berkontribusi melalui pendekatan keilmuan guna membantu mengungkap penyebab kejadian.
"Kami tahu informasi ini dari media sosial. Lalu teman-teman Fakultas Teknik berdiskusi dan merasa punya empati keilmuan untuk membantu mengkaji fenomena ini," ujarnya.
Baca Juga: Cerdas Cermat Era 90-an Tingkatkan Semangat Belajar Siswa, Disdikpora DIY: Masih Relevan Hingga Kini
Sementara sembari menunggu hasil penelitian lebih lanjut, tim UGM juga memberikan sejumlah rekomendasi mitigasi kepada keluarga korban. Salah satunya dengan memindahkan barang-barang yang mudah terbakar ke area yang dianggap lebih aman.
"Barang-barang yang mudah terbakar seperti pakaian dan sejenisnya disarankan dipindahkan ke bagian rumah yang lebih aman untuk sementara waktu," katanya.
Menurut Prof. Alva, sejauh ini keluarga korban telah kooperatif dan mengikuti berbagai rekomendasi yang diberikan oleh pihak berwenang selama proses penyelidikan berlangsung.
"Tuan rumah sejauh ini sudah mengikuti saran-saran dari pihak yang berwenang," pungkasnya. (iza)
Editor : Meitika Candra Lantiva