Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Gempa Dahsyat Dua Dasawarsa lalu Masih Teringat Jelas bagi Penghuni Rumah Domes Prambanan Sleman

Delima Purnamasari • Selasa, 26 Mei 2026 | 19:13 WIB
Bocah bermain di kompleks Rumah Dome di Desa Sumberharjo, Prambanan, Sleman, kemarin (25/5). Rumah Dome dibangun sebagai hunian bagi warga pascagempa besar yang melanda Jogja pada 2006 silam. Bangunan tersebut dirancang tahan gempa dan tahan api. Foto : Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja
Bocah bermain di kompleks Rumah Dome di Desa Sumberharjo, Prambanan, Sleman, kemarin (25/5). Rumah Dome dibangun sebagai hunian bagi warga pascagempa besar yang melanda Jogja pada 2006 silam. Bangunan tersebut dirancang tahan gempa dan tahan api. Foto : Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja

 


SLEMAN - Gempa dahsyat 2006 lalu masih teringat jelas bagi warga penghuni rumah domes di Sengir, Sumberharjo, Prambanan, Sleman.

Penduduk yang tinggal di rumah antigempa Teletubbies ini mengaku bencana yang terjadi itu memang masih menimbulkan trauma tersendiri. 

Salah satunya Widi Laksono. Warga Nglepen yang tanahnya ambles dan kini tinggal di rumah domes ini bercerita, pada 27 Mei 2006 lalu dia sedang memasak nasi dan sayur. 

Baca Juga: Peringatan 20 Tahun Gempa Dahsyat Bantul, Pelajaran Apa dari Peristiwa ini? Pemkab Perkuat Mitigasi Bencana, Brandingnya Siap untuk Selamat

Tiba-tiba ada goncangan yang semakin lama semakin kencang hingga akhirnya memutuskan langsung keluar rumah. 

"Masaknya belum mateng ditinggal aja, terus nasi sama sayurnya sudah ketimbun rumah yang ambruk," katanya saat ditemui di tempat tinggalnya, Senin (25/5). 

Kondisi saat itu sangat kacau ditambah adanya isu tsunami, sehingga warga bingung ke mana harus menyelamatkan diri. 

Dia juga melihat para tetangganya panik, bahkan ada yang berniat untuk berjualan ke pasar tetapi batal lalu makanannya dibagi bersama. 

Baca Juga: Sunarto, Tertimbun Reruntuhan hingga Lumpuh  karena Gempa Dahsyat Bantul 2006; Bangkit dan Berkarya, Kini Aktif di Organisasi Kebencanaan

Widi mengaku merasa sangat beruntung bisa selamat dari bencana itu tanpa terluka.  "Jadi setelah kejadian itu tinggal di tenda lama, nunggu rumah ini selesai dibangun," tambahnya. 

Gempa 2026 lalu dia katakan meninggalkan trauma tersendiri. Meski sudah tinggal di rumah domes, dia tetap langsung melarikan diri ke luar jika terasa ada goyangan gempa. 

Widi khawatir apabila bencana besar kembali terjadi hingga menyebabkan bangunan domes ini roboh. Hal itu dinilai lebih membahayakan karena struktur bangunan yang lebih berat jika sampai tertimbun. 
"Takutnya ambrol karena ini juga ada retak-retak temboknya. Kalau ketimbun pasti mati," ucapnya. 

Baginya ketika ada bencana terjadi hal terpenting adalah menyelamatkan diri ke tempat yang aman. Termasuk memastikan informasi terkait bencana yang terjadi agar tidak panik dan terpicu berita bohong. 
"Memang jadi trauma, jadi kalau ada apa-apa lari keluar. Bahaya kalau roboh  seperti dulu," ucapnya. 

Baca Juga: Atasi Masifnya Aksi Klitih Geng Pelajar, DPRD Sarankan Wadah Kompetisi Tinju dan Balap Legal di Kota Jogja 

Hal senada diungkapkan oleh penghuni rumah domes yang lain, Tugiyem. Saat itu dia baru pulang dari pasar dan melihat banyak orang saling teriak panik.  "Bingung cari saudara di mana. Kalau rumah yang dulu sudah enggak ada, ambles," ujarnya. 

Menurutnya, memang tinggal di rumah domes bisa mengurangi kekhawatirannya jika ada guncangan gempa, sementara dia berada di dalam rumah. Lantaran struktur bangunannya yang lebih kuat dan tahan gempa. (del/laz) 

 

Editor : Herpri Kartun
#insight #gempa jogja