SLEMAN - Seorang pria berinisial S ditemukan dalam kondisi tewas di rumahnya di Padukuhan Topadan, Margoagung, Seyegan Jumat (15/5). Pria 48 tahun ini disebut merupakan salah satu pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK) di Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Sleman.
Kasi Humas Polresta Sleman Iptu Argo Anggoro menjelaskan, pada Kamis (14/5) malam salah satu saksi berinisial U masih bertemu S yang mengaku tidak bisa tidur karena sakit asam lambung. Keesokan harinya sekira pukul 06.45, ibu S melihat bercak darah di kamar S lalu memanggil ketua RT dan melaporkan ke Polsek Seyegan.
Petugas Polsek Seyegan bersama tim Inafis dan tenaga medis mendatangi tempat kejadian perkara (TKP). S ditemukan telah meninggal dunia dengan luka sayatan pada leher serta sebilah pisau di samping tubuh S. Selanjutnya S dibawa ke RS Bhayangkara.
"Keluarga menerangkan S sebelumnya pernah berpamitan karena tidak kuat menahan sakit asam lambung," ujar Argo Jumat (15/5).
Hasil penyelidikan sementara, tidak ditemukan sidik jari pada pisau di TKP. Keluarga juga menolak dilakukan autopsi. Berdasarkan hasil penyelidikan sementara, S diduga meninggal dunia akibat bunuh diri karena sakit yang dideritanya.
"Kami mengimbau masyarakat untuk tidak mengambil jalan pintas dengan mengakhiri hidup saat menghadapi sakit atau masalah," pesannya.
Sementara keponakan S, Wahyu Utomo menjelaskan, S sudah bekerja sejak 2018, tetapi baru menjadi PPPK pada September 2025. S adalah pegawai pembersihan jalan pada bidang bina marga. Dia bercerita jika pada Jumat pekan lalu hingga Senin, S sempat izin kerja. Hanya pada Selasa dan Rabu masih berangkat meski kondisinya belum baik.
"Saya juga kerja bareng. Waktu itu saya suruh tidur saja. Pas itu ngobrolnya udah enggak seperti biasa, diajak bercanda diem," katanya ditemui di rumah duka Jumat (15/5).
Dia menyebut, S sempat memeriksakan diri karena sakitnya. Pertama karena kelelahan dan kedua karena vertigo. Selama bekerja S juga telihat membawa obat. Wahyu bercerita, S tinggal bersama ibunya yang juga dalam kondisi sakit. Sementara anak dan istrinya tinggal di Kabupaten Gunungkidul.
Tewasnya S diperkirakan terjadi pada pagi hari. Sebab sekitar pukul 02.00, S masih terlihat mondar-mandir seperti bingung dan sempat duduk di kursi sembari menangis memegang kepalanya. Keterangan ini Wahyu peroleh dari ibu S.
Dia pun tidak tahu pasti masalah apa yang menimpa ayah satu anak ini. Hanya saja, saat jenazah ditemukan ada luka sayatan di leher dan pisau di sebelah kanan korban. Wahyu menduga memang korban melakukan bunuh diri, tetapi tidak tahu pasti apa motifnya. Lantaran sosoknya yang baik, tidak memiliki musuh, tidak merokok, maupun mengonsumsi minum-minuman keras.
"Kalau pribadinya itu bagus. Di warga juga bagus meski orangnya tertutup," tambahnya.
Wahyu bercerita, S juga meninggalkan surat yang meminta untuk dimakamkan di Sasonoloyo Jambon. Lokasi ini jadi tempat peristirahatan dari simbah dan keluarga besarnya. (del/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita