SLEMAN - Puluhan warga Padukuhan Bayen, Purwomartani, Kalasan, Sleman dilaporkan mengalami sesak napas dan iritasi mata pada Sabtu (9/5) dini hari. Penyebabnya karena kebocoran gas amonia dari PT Yogya Kristal Sejati yang merupakan pabrik produksi es kristal. Atas kejadian ini dilakukan dekontaminasi zat berbahaya oleh tim Gegana Brimob Polda DIY.
Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sleman Sugeng Riyanta menyebut, dampak dari kejadian ini memang warga tidak disarankan untuk meminum air dari sumur di sekitar lokasi. Pihaknya akan melakukan sampling air bersih untuk mengetahui parameter air yang aman. Bekerja sama dengan laboratorium yang memiliki kemampuan melakukan uji kualitas air.
Baca Juga: Belasan Warga Karangsari Kulon Progo Keracunan, Diduga usai Menyantap Nasi Kenduri Acara Pernikahan
"Benar amonia karena salah satu bahan utama pembuatan es kristal. Kejadian ini baru pertama. Pernah ada laporan gangguan lingkungan tetapi terkait dengan kebisingan," ujarnya Minggu (10/5).
Sementara itu, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Sleman Triana Wahyuningsih mengatakan, pabrik ini sudah mengantongi izin usaha sejak tahun 2012 dan diperbarui dengan izin dari sistem online single submission (OSS). Dia sebut akan dilakukan pengecekan atas kejadian ini. Apakah penyebabnya karena ketidaksesuaian dengan operasional izin atau ada hal lain.
Baca Juga: Dinkes Bantul Temukan Dua Kasus Hantavirus Tahun Lalu, Sudah Sembuh, Masyarakat Diimbau Tidak Panik
"Nanti teman-teman dinas teknis akan membuatkan rekomendasi jika memang ada penyimpangan terhadap izinnya. Nanti akan dilakukan peninjauan ulang," katanya.
Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Sleman Raditya Kusuma Tejamurti menyebut, ada 23 orang warga tedampak yang dilayani di posko kesehatan. Terdiri dari 22 orang dewasa dan satu anak-anak. Terdapat tiga orang yang mengeluh sesak dan membutuhkan penangan oksigen dengan saturasi awal kurang dari 95. Setelah mendapatkan oksigenasi selama 30 menit keadaan membaik dan dipulangkan. "Lalu ada satu pasien yang dirawat inap di RS Tegalyoso Klaten. Bukan penduduk sekitar, tetapi warga Klaten yang kebetulan menginap," bebernya.
Dukuh Bayen Mukti Sukamdani menjelaskan, atas kejadian ini sudah dilakukan komunikasi dengan pabrik. Saat ini warga terdampak tengah melakukan pendataan terkait kerugian yang ada. Hal ini karena dampak kesehatan yang dirasakan sekaligus terkait ikan di dua kolam sekitar yang ikut mati. Pendataan kerugian ini memerlukan waktu sehingga dia belum bisa memperkirakan jumlahnya. "Semua kerugian kami data. Dari pabrik berkomitmen untuk memberikan ganti rugi," ujarnya.
Dia sebut untuk sementara pabrik berhenti beroperasi. Sampai saat ini masih menunggu teknisi yang akan melakukan perbaikan. (del/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita