SLEMAN - Korban keracunan dalam acara pamitan haji yang diselenggarakan pasangan suami istri di Getas Toragan, Tlogoadi, Mlati, Sleman bertambah. Dinas Kesehatan telah melakukan wawancara pada 92 orang dan 69 orang di antaranya bergejala.
Gejala yang paling banyak dilaporkan adalah diare 80 persen, pusing 72 persen, demam 64 persen, dan sakit perut 64 persen.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman Cahya Purnama menjelaskan, dari 69 orang tersebut ada 39 orang yang menjalani rawat jalan lewat posko. Lalu ada sepuluh orang yang memeriksakan diri ke RSA UGM, sembilan orang rawat jalan dan satu orang harus menjalani rawat inap.
Kemudian ada enam orang yang menjalani pengobatan ke fasilitas kesehatan lain dan lainnya menjalani pengobatan secara mandiri.
"Tidak ada kasus kematian karena kasus ini," kata Cahya ditemui di sela-sela acara Gebyar Husada Sembada, Selasa (5/5).
Dia menjelaskan, atas peristiwa ini telah dilakukan penyelidikan epidemiologi dengan penanganan korban, pengambilan sampel, dan identifikasi wilayah terdampak.
Baca Juga: Wujudkan Kepedulian Sesama, Astra Motor Yogyakarta Gandeng PMI Sleman Gelar Donor Darah Rutin 2026
Termasuk pembukaan pos pengobatan di rumah dukuh Toragan. Seluruh warga yang makan dan merasakan gejala sudah diarahkan untuk datang ke pos tersebut.
Menurut hasil penyidikan di lapangan, menu nasi boks berupa sambal krecek dengan rempela hati dia sebut ada kemungkinan untuk menyebabkan gejala sakit ini. Sementara menu lain tidak menunjukkan hubungan yang bermakna. Hanya saja untuk kepastiannya perlu menunggu hasil pengecekan sampel yang telah dikirim ke Laboratorium Balai Labkesmas Yogyakarta. Cahya memperkirakan butuh waktu sekitar sepuluh hari untuk mendapat hasilnya karena perlu proses pembiakan.
"Jadi sampelnya ayam, krecek, ampela. Lalu muntahan dan feses korban. Biasanya yang muncul itu salmonela dan E. coli," tambahnya.
Cahya menyebut, jika melihat waktu makan sampai terjadinya gejala maka masa inkubasi rata-rata sekitar 12 jam. Dinas kesehatan akan terus melakukan pemantauan minimal dua kali masa inkubasi dengan rentah satu sampai dua hari ke depan. Ini untuk melihat apabila masih ada masyarakat yang bergejala.
"Memang itu kemungkinannya terjadi karena kontaminasi bakteriologi atau mikroorganisme. Kami tetap melakukan investigasi faktor resiko di tempat kateringnya," ujarnya.
Atas kejadian ini dia mengimbau agar masyarakat tidak mengonsumsi makanan yang sudah memiliki rasa atau bau berbeda. Apalagi jika memang ditemukan perbedaan mencolok seperti makanan yang sudah lembek dan berbau anyir. Lantaran dipastikan akan berbahaya jika dikonsumsi.
Sementara itu, Kasi Humas Polresta Sleman, Iptu Argo Anggoro menjelaskan, tuan rumah penyelenggara pamitan haji memesan nasi kotak di salah satu katering ayam panggang di Jalan Wates, Yogyakarta.
Jumlahnya 250 kotak dan dapat bonus enam kotak. Dibagikan di warga padukuhan, keluarga di Umbulharjo, yayasan, keluarga tuan rumah, tetangga, dan pemain pola di Lapangan Getas yang tidak jauh dari lokasi.
Baca Juga: Berikut Cara Menonaktifkan NPWP Pribadi Serta Pengajuannya Melalui Coretax
"Dari hasil lab salah satu korban di RSA UGM yang menyebabkan terjadi muntaber karena terkena bakteri," katanya.
Argo menyebut, terjadinya kontaminasi pada makanan diakibatkan faktor pengolahan, penyimpanan, atau distribusi makanan yang tidak memenuhi standar higienis. Dia sebut Polsek Mlati sudah memanggil penyedia katering yang bersangkutan, tetapi sampai saat ini belum ada laporan kepolisian yang masuk maupun korban yang mengalami keracunan fatal.
"Polsek Mlati sementara hanya monitoring terhadap para warga yang keracunan, tetapi pengumpulan bahan dan keterangan sudah dilaksanakan," katanya. (del)
Editor : Bahana.