SLEMAN - Forum Cik Ditiro bersama Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jogja angkat bicara mengenai dugaan pemukulan yang terjadi saat peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day di Jogjakarta.
Sebab, dalam aksi itu ada beberapa peserta aksi yang dilaporkan menjadi korban pengeroyokan oleh sekelompok orang tak dikenal (OTK), saat hendak membubarkan diri di sekitar gedung DPRD DIJ Jumat sore (1/5) lalu.
Dalam konferensi pers yang digelar di Pusat Studi Pedesaan dan Kawasan (PSPK) UGM, Sabtu (2/5) siang, Forum Cik Ditiro dan LBH Jogja menghadirkan beberapa peserta aksi yang menjadi korban sasaran OTK itu.
Dalam pertemuan itu, para korban yang hadir mengenakan masker demi keamanan.
Baca Juga: Prediksi Skor Osasuna vs Barcelona La Liga Minggu 3 Mei 2026, Blaugrana Incar Kemenangan di El Sadar
Koordinator Cabang Serikat Mahasiswa Indonesia (SMI) Jogja yang tak mau dikutip namanya menceritakan, ketegangan yang terjadi dalam aksi May Day itu sebenarnya sudah terasa sejak siang hari sekitar pukul 13.00.
Saat itu massa sempat didatangi sekelompok orang yang melarang mereka melakukan aksi hingga ke Titik Nol Kilometer, dengan alasan ada acara kebudayaan.
"Kami sepakat untuk tidak sampai ke Titik Nol demi menghindari konflik horizontal. Aksi kami batasi hanya sampai gedung DPRD DIJ," jelasnya.
Namun petaka terjadi saat massa aksi mulai membubarkan diri sekitar pukul 16.10.
Salah satu korban menceritakan, saat berboncengan tiga melewati Jalan Perwakilan samping DPRD DIJ, mereka diteriaki dengan kata-kata kasar oleh segerombolan orang yang diperkirakan berjumlah 40 orang.
Bambu bekas pengikat bendera yang mereka bawa pun ditarik oleh para OTK itu. Setelah itu, mereka dikejar dan dipukul. "Saya refleks menangkis pakai tangan kiri.
Ada polisi di sana, tapi anehnya tidak ada tindakan untuk melerai di awal," ungkapnya.
Korban lain yang mencoba merekam kejadian menggunakan ponsel juga tak luput dari sasaran. Kepalanya dipukul menggunakan botol dan mendapatkan bogem mentah di bagian rahang.
"Dihapus videonya katanya. Kalau gak mau kasih, saya akan pukul kalian. Mereka lalu mukul saya," bebernya.
Kuasa hukum para korban dari LBH Jogja Wandi Saputra mengatakan, pola kekerasan yang dilakukan para OTK itu bukanlah hal baru. Tapi diduga kuat bersifat terorganisasi serta sistematis.
Apalagi, dalam kasus ini ada pembiaran yang dilakukan aparat di lokasi kejadian.
"Kami meminta kepolisian untuk melakukan investigasi menyeluruh. Ini negara hukum, bukan negara premanisme," tegasnya.
Sementara, pakar sosiologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Andreas Budi Widyanta yang juga hadir dalam pertemuan ini menyesalkan terjadinya kekerasan yang menimpa mahasiswa yang tengah bersolidaritas untuk isu buruh.
Sebab, menurutnya, Jogja sebagai kota pendidikan dan kebudayaan harus bersih dari cara-cara kekerasan dalam merespons artikulasi politik warga negara.
"Ruang publik adalah milik semua warga. Mahasiswa turun untuk memperjuangkan keadilan sosial, sila kelima Pancasila.
Baca Juga: Mengenal Sosok Ki Hajar Dewantara, di Balik Momentum Peringatan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei
Jika tindakan kekerasan ini tidak diusut tuntas, ini akan menjadi noda bagi Jogja," tandasnya. (ayu/laz)
Editor : Herpri Kartun