Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Gunung Merapi 26 April 2026: 55 Guguran Lava ke Barat Daya, 159 Gempa Guguran, Status Siaga III Masih Berlaku

Iwa Ikhwanudin • Senin, 27 April 2026 | 12:49 WIB
Ilustrasi Awan panas guguran gunung Merapi.
Ilustrasi Awan panas guguran gunung Merapi.

SLEMAN, Radar Jogja - Gunung Merapi kembali menunjukkan aktivitas tinggi sepanjang Minggu (26/4/2026). Badan Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat 55 kali guguran lava yang meluncur ke arah Barat Daya dengan jarak maksimum 2.000 meter, disertai ratusan kejadian kegempaan dari berbagai jenis dalam rentang 24 jam pengamatan. Status Gunung Merapi tetap berada pada Level III (Siaga).

Laporan aktivitas harian yang disusun oleh Suraji dan Yulianto dari BPPTKG — berdasarkan data KESDM, Badan Geologi, dan PVMBG — mencatat total 228 kejadian seismik selama periode 26 April 2026 pukul 00.00 hingga 24.00 WIB. Angka ini mencerminkan tekanan vulkanik yang konsisten di dalam tubuh gunung setinggi 2.968 mdpl tersebut.

Guguran Lava 55 kali · jarak maks. 2.000 m · arah Barat Daya
Gempa Guguran 159 kejadian · amplitudo 2–39 mm
Gempa Hybrid 59 kejadian · amplitudo 2–37 mm
Gempa Vulkanik Dangkal 9 kejadian · amplitudo 4–80 mm

Dari total aktivitas pada 26 April 2026, guguran lava menjadi fenomena yang paling mencolok dari sisi visual dan ancaman langsung. BPPTKG mencatat 55 kejadian guguran lava yang semuanya meluncur ke arah Barat Daya — meliputi tiga alur utama, yakni Hulu Kali Sat/Putih, Hulu Kali Bebeng, dan Hulu Kali Krasak. Jarak luncur terjauh mencapai 2.000 meter dari puncak kawah.

Baca Juga: Total Empat Pelaku Pengeroyokan Pelajar Asal Bantul, Ilham Dwi Saputra, Telah Ditahan di Polres Bantul

Guguran lava terjadi akibat kubah lava yang terus mengalami pertumbuhan seiring suplai magma yang belum berhenti. Material panas yang tidak lagi ditahan oleh batas kubah meluncur ke bawah mengikuti lembah-lembah sungai di lereng barat daya. Kondisi ini menjadikan jalur-jalur sungai tersebut zona merah yang wajib dikosongkan dari aktivitas manusia.

Kegempaan Gunung Merapi pada 26 April 2026 didominasi oleh gempa guguran yang berjumlah 159 kejadian — paling banyak dibandingkan jenis gempa lain. Gempa ini mencerminkan material yang terus bergerak dan runtuh dari kubah lava aktif. Amplitudo berkisar antara 2 hingga 39 mm dengan durasi 41,88 hingga 219,09 detik.

Gempa Hybrid/Fase Banyak sebanyak 59 kejadian merupakan indikator penting. Jenis gempa ini dihasilkan oleh pergerakan fluida vulkanik — campuran gas dan magma — di dalam sistem pipa vulkanik yang berada tidak terlalu jauh dari permukaan. Kehadirannya dalam jumlah signifikan memperkuat interpretasi BPPTKG bahwa suplai magma masih aktif berlangsung.

Gempa Vulkanik Dangkal berjumlah 9 kejadian dengan amplitudo tertinggi mencapai 80 mm. Ini adalah jenis gempa yang dihasilkan oleh retakan batuan di zona dangkal akibat tekanan magma. Amplitudo yang relatif besar mengindikasikan energi yang tidak kecil. Satu gempa tektonik jauh juga terekam, namun tidak berkaitan langsung dengan aktivitas vulkanik Merapi.

Baca Juga: Pemerintah Pusat Kawal Kasus Dugaan Kekerasan Anak di Daycare Little Aresha, Bakal Tinjau Ulang Operasional Daycare di Seluruh Indonesia

Secara visual, Gunung Merapi pada 26 April 2026 tampak dalam kondisi cerah hingga berawan dengan kabut tipis hingga sedang (0–III). Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tebal dan sedang, mengepul setinggi 25 hingga 150 meter di atas puncak kawah bertekanan lemah — mengindikasikan aktivitas degassing yang terus berlangsung meskipun tidak dalam fase eksplosif.

Curah hujan 22 mm per hari yang tercatat pada periode ini patut diwaspadai secara khusus. BPPTKG secara eksplisit memperingatkan bahwa hujan di sekitar Gunung Merapi dapat memicu lahar, yakni aliran massa campuran material vulkanik dan air yang sangat destruktif, bahkan tanpa harus ada erupsi terlebih dahulu.

Pernyataan BPPTKG ini menjadi inti dari seluruh laporan hari itu. Suplai magma yang terus mengalir ke kubah berarti material panas terus bertambah, tekanan di dalam sistem vulkanik tidak mereda, dan potensi guguran — bahkan awanpanas guguran (APG) — tetap nyata. APG terbentuk ketika kubah lava runtuh dalam volume besar dan menghasilkan awan panas yang meluncur cepat menuruni lereng, jauh lebih berbahaya dari guguran lava biasa.

Status Gunung Merapi pada Level III (Siaga) yang telah berlaku sejak beberapa waktu lalu masih dipertahankan oleh BPPTKG mengingat kombinasi data yang konsisten: kegempaan tinggi, guguran lava yang aktif, serta suplai magma yang masih berlanjut. Masyarakat dan wisatawan diimbau untuk memantau perkembangan resmi melalui kanal BPPTKG dan PVMBG, serta tidak mengandalkan informasi dari sumber yang tidak terverifikasi. (red)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Gunung Merapi hari ini #awan panas guguran #Merapi Hari Ini #BPPTKG Yogyakarta #lava pijar gunung merapi