SLEMAN - Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) Sleman memastikan akan terjadi kekurangan air pada para petani di masa kemarau ekstrem kali ini. Untuk itu, disiapkan sejumlah skema penanganan jika pada akhirnya terjadi gagal panen.
Plt Kepala DP3 Sleman Rofiq Andriyanto menjelaskan, saat ini Bumi Sembada telah menyelenggarakan program asuransi usaha tani di Kapanewon Moyudan sejumlah 45 hektare dan di Kapanewon Ngaglik 15 hektare. Penjaminan lewat kerja sama PT Asuransi Jasa Indonesia ini memungkinkan petani mendapat ganti rugi jika mengalami gagal panen.
"Ke depan akan kami kembangkan lebih luas lagi. Tahun ini rencananya sampai 90 hektare," katanya Jumat (17/4).
Baca Juga: Pengamat Akuntansi Sebut PT MTG Tak Bisa Penuhi Tuntutan Karyawan karena Aset Hanya Tersisa Rp 34 Miliar
Sementara jika gagal panen dialami wilayah lain, dinasnya baru sebatas memberikan penggantian benih. Belum sampai pada ganti rugi menyeluruh. Kekeringan kali ini sendiri disebut akan mirip pada 2023 lalu yang tercatat ada 53 hektare gagal panen. Hanya saja diprediksi tidak sampai sebegitu parah karena tidak ada air dari Selokan Mataram yang dimatikan.
"Untuk 2025 lalu tidak ada sawah gagal panen karena memang yang terjadi kemarau basah," tambahnya.
Dia berharap, capaian tersebut bisa dipertahankan dengan berbagai upaya yang telah dilakukan. Untuk wilayah yang perlu perhatian lebih, khususnya dengan kondisi tanah berpasir sudah dilakukan penggantian komoditas tanaman. Dari biasanya padi menjadi palawija berupa kacang tanah maupun jagung. Wilayah tersebut di antaranya Kapanewon Seyegan, sebagian Kapanewon Tempel, Kalurahan Caturhajo, dan Kapanewon Ngaglik.
Baca Juga: Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman Beri Apresiasi, Pompanisasi Sukses Tingkatkan Produktivitas Padi di Magelang
Bagi petani yang tetap menanam padi maka diedukasi untuk memilih varietas tahan kekeringan, seperti padi legowo, inpago 4-13, dan inpari 38-46. Termasuk pengecekan peralatan penyediaan air agar saat kekeringan bisa digunakan untuk membantu tanaman yang tengah dibudidayakan.
"Kalau untuk hama penyakit tanaman saat musim kemarau justru lebih terkendali, tidak seperti di musim hujan," tambah Rofiq.
Sementara itu, petani asal Sleman Sugiono menyebut, perbaikan saluran irigasi menjelang kemarau penting dilakukan. Hal ini untuk memastikan lahan tercukupi air selama tidak ada hujan. Jika ada saluran irigasi bocor, air hanya akan merembes ke tanah. (del/eno)