SLEMAN – Kerap menjadi momok, siswa SD Negeri (SDN) Tlacap Sleman mengikuti prosesi sungkeman dan membasuh kaki orang tua sebagai bentuk memohon doa restu menjelang tes kemampuan akademik (TKA) dan tes kemampuan akademik daerah (TKAD) Kamis (16/4/2026).
Ini sekaligus menjadi upaya sekolah dalam memperkuat mental dan karakter siswa agar lebih siap menghadapi ujian.
Acara ini membuat sekolah yang berada di Pandowoharjo, Sleman jadi bernuansa sendu.
Baca Juga: Sinergi Kodim 0709/Kebumen dan Radar Jogja Sabet Empat Penghargaan Nasional di Ajang TMMD
Para siswa terlihat serius memohon agar hajatnya dalam melaksanakan ujian bisa lancar. Mereka dibagi di ruangan sesuai keyakinan masing-masing.
Terdengar sebagian memanjatkan salawat, sementara lainnya menyanyikan lagu doa.
Kegiatan ini tidak hanya dihadiri oleh siswa kelas enam, tetapi juga orang tuanya. Puncaknya para siswa memohon restu dengan cara sungkem dan membasuh kaki ayah atau ibu mereka yang hadir.
Terlihat sejumlah siswa maupun orang tua yang hadir turut meneteskan air mata sembari berpelukan.
Kepala SDN Tlacap Sukirman mengatakan, jika dilihat secara logika, sungkeman dan membasuh kaki memang tidak berkaitan langsung dengan nilai ujian.
Hanya, hal ini bagian pendidikan karakter anak untuk menghormati pengorbanan orang tua.
"Di sini-lah anak itu merasa butuh sekali doa orang tua. Itu hanya simbol, tapi hakikatnya mereka harus minta doa terus ke orang tua," katanya ditemui di sela-sela acara.
Baca Juga: Indonesia vs Malaysia Piala AFF U17 2026, Kurniawan Dwi Yulianto Minta Pemain Fokus Raih Kemenangan
Sekolah sengaja mengambil waktu malam hari dan malam Jumat. Dia menyebut waktu ini diyakini malam yang baik dan doa-doa orang lebih mudah diijabah.
Suasana yang terbentuk juga jadi lebih syahdu. Sukirman menegaskan, sebenarnya acara ini bukan kewajiban, tetapi memang selalu diselenggarakan dengan dukungan dari wali murid.
"Ini bentuk menguatkan anak dan orang tua. Agar orang tua juga ikut mendoakan, mengakomodasi, dan prihatin," ujarnya.
Baca Juga: Langsung Jadi Idola Bali United, Teppei Tachida: Saya Ingin Penuhi Ekpektasi Suporter
Sementara itu, salah satu wali murid Yohanes Murti Santosa menilai, ini adalah kegiatan yang sangat positif demi menguatkan mental anak dalam menghadapi TKA dan TKAD.
Meski ujian ini kerap kali dianggap menakutkan, harapannya para siswa jadi lebih rileks saat mengerjakannya.
Dia mengaku memang terharu dan terus meneteskan air mata. Tak menyangka anak yang biasanya nakal, saat duduk di kelas enam sudah mulai berpikir dewasa.
"Meski secara fisik yang bertempur siswa, tapi meraka tahu kalau yang mendukung ada bapak ibu di rumah dan di sekolah," ujarnya. (del/wia)