Sleman – Gunung Merapi kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang cukup tinggi sepanjang Sabtu (11/4/2026). Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat dua kali awan panas guguran (APG) serta puluhan guguran lava yang mengarah ke sektor barat daya dan selatan.
Menurut laporan aktivitas Gunung Merapi periode pengamatan 11 April 2026 pukul 00.00–24.00 WIB, asap kawah bertekanan lemah berwarna putih tebal teramati mencapai tinggi 475–525 meter di atas puncak kawah. Cuaca di sekitar gunung cerah hingga mendung dengan angin bertiup tenang hingga lemah ke arah barat, selatan, dan timur. Curah hujan tercatat mencapai 20 mm per hari.
Rincian Kejadian SeismikSelama 24 jam tersebut, BPPTKG merekam:
2 kali awan panas guguran dengan amplitudo 8–22 mm dan durasi 148,84–166,65 detik. Dua APG ini meluncur ke arah Kali Boyong dengan jarak luncur maksimum 1.500 meter.
151 kali guguran dengan amplitudo 2–31 mm dan durasi 35,77–195,17 detik.
88 kali gempa hybrid/fase banyak dengan amplitudo 2–37 mm.
1 kali gempa vulkanik dangkal dengan amplitudo 23 mm.
Selain itu, teramati 36 kali guguran lava yang mengarah ke barat daya, meliputi Kali Sat/Putih, Kali Bebeng, Kali Krasak, dan Kali Boyong, dengan jarak luncur maksimum 2.000 meter.
Aktivitas ini menegaskan bahwa suplai magma ke permukaan masih berlangsung, sehingga berpotensi memicu awan panas guguran lebih lanjut di dalam daerah potensi bahaya.
Tingkat aktivitas Gunung Merapi masih berada pada Level III (Siaga). Potensi bahaya saat ini meliputi: Guguran lava dan awan panas di sektor selatan-barat daya: Sungai Boyong maksimal 5 km, Sungai Bedog, Krasak, Bebeng maksimal 7 km.
Sektor tenggara: Sungai Woro maksimal 3 km, Sungai Gendol 5 km.
Lontaran material vulkanik jika terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.
BPPTKG memberikan beberapa rekomendasi penting kepada masyarakat:
Tidak melakukan kegiatan apapun di dalam daerah potensi bahaya.
Mewaspadai bahaya lahar dan awan panas guguran, terutama saat hujan deras di sekitar Gunung Merapi.
Mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik dari erupsi Merapi.
Selalu mengikuti informasi resmi dari BPPTKG dan PVMBG jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan.
Masyarakat di kawasan rawan bencana (KRB) Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten diimbau tetap tenang namun waspada.
Laporan ini disusun oleh tim BPPTKG (Suratno & Yulianto) berdasarkan data pemantauan visual dan instrumental dari Pos Pengamatan Gunung Merapi. Sumber: BPPTKG – KESDM, Badan Geologi, PVMBG (https://magma.esdm.go.id). (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin