SLEMAN - Pasar tradisional yang buka berdasarkan pasaran Jawa masih banyak ditemui di Jogjakarta. Beberapa memang hanya buka setiap lima hari sekali. Ada juga yang tetap buka setiap hari dan ketika tepat saat pasarannya, maka ada penambahan komoditas. Utamanya dari para pedagang yang biasanya berpindah-pindah tempat berjualan.
Baca Juga: Oldies Majalah Pulsa, Jejak Media Teknologi Era 2000-an yang Kini Jadi Kenangan
Salah satunya ada di Pasar Tlogorejo di Banyuraden, Gamping, Sleman. Setiap wage, pasar ini akan dipenuhi oleh pedagang burung. Mereka membawa burung-burung ini dengan bermodalkan sepeda motor atau becak. Ada juga yang menjual perlengkapannya, seperti sangkar dan pakan. Sementara untuk pedagang sayuran tetap buka setiap hari.
Salah seorang pedagang burung adalah Kandar. Pria asal Bantul ini mengaku setiap wage menyempatkan diri untuk datang ke Pasar Tlogorejo. Pasar burung wage ini dia sebut sudah berlangsung sangat lama, sehingga telah banyak dikenal. Banyak pedagang burung dari berbagai daerah sudah tahu jadwalnya dan mereka akan datang berjualan.
Begitu juga dengan pecinta burung yang ingin membeli atau sekedar melihat-lihat. Burung yang dijualnya mulai harga Rp 25 ribu, seperti pasar pada umumnya. Pembeli juga berhak menawar. "Kalau saya sebagian beli, ada yang peliharaan sendiri. Ada burung kutilang, gelatik, tekukur," katanya saat ditemui di sela-sela berjualan, Kamis (2/4) lalu.
Baca Juga: Retribusi Naik, Pedagang Eks Pasar Burung Gawok Hanya Terima Permintaan Maaf dari BKAD Kulon Progo
Dia sudah konsisten berjualan selama tujuh tahun di Pasar Tlogorejo ini. Meski demikian, dia tidak tahu pasti kenapa pasar burung hanya digelar setiap wage. Dirinya hanya ikut-ikutan berjualan dengan temannya. Sementara jika pada pasaran lain, dia berjualan di beda lokasi. Misalnya di Pasar Kowen setiap pon dan di Pasar Gamping setiap legi.
Usaha berpindah-pindah lokasi jualan baginya adalah bentuk ikhtiar mencari rezeki. Di sisi lain, retribusi pada pasar dadakan semacam ini biayanya murah. Di Pasar Tlogorejo dia hanya dimintai karcis senilai Rp 2.000 dan uang parkir saja. Tidak ada beban retribusi lainnya. "Ini karena kami langsung nempatin aja, enggak ada lapak-lapakan. Mulai pukul 08.00 sampai 13.30," tambahnya.
Berbeda dengan Pasar Klitikan Godean di sepanjang ruas Jalan Genitem-Klaci yang digelar setiap pon. Di sini masyarakat bisa membeli berbagai barang bekas. Mulai dari pakaian, alat rumah tangga, hingga permainan anak. Dagangan yang dijual jelas lebih murah dibanding harga pasaran. Jika pembeli beruntung juga bisa mendapatkan barang original dengan kondisi masih bagus.
Salah seorang pedagang Pasar Klitikan Godean Suryadi menjelaskan, salah satu alasannya terus berjualan adalah tidak adanya retribusi yang dikenakan seperti di pasar umum. Persyaratannya hanya cukup berjualan di sisi timur jalan agar tidak menyebabkan macet maupun mengganggu lalu lintas.
Dia memperkirakan pedagang di pasar ini ada 200 orang. Umumnya mereka akan datang pukul 06.00 dan berjualan hingga pukul 12.00. "Kalau saya itu kulak. Kadang ada orang numpang jualan, paling saya untung Rp 2000," tambah pedagang arit yang sudah berjualan selama sepuluh tahun ini.
Banyaknya pada pedagang yang memanfaatkan hari pasaran Jawa, juga bisa ditemui di sejumlah pasar tradisional lain. Seperti di Sleman misalnya, pahing untuk Pasar Sleman, wage untuk Pasar Tempel, dan Kliwon untuk Paar Cebongan. Di Kota Jogja juga ada Pasar Kotagede dengan pasaran legi. (del/laz)