Yogyakarta –
Yogyakarta – Gunung Merapi di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang signifikan. Sepanjang periode pengamatan Jumat (3/4/2026) pukul 00.00 hingga 24.00 WIB, BPPTKG mencatat ratusan guguran lava dan satu kali awan panas guguran, meski status tetap Level III (Siaga).
Menurut laporan resmi MAGMA-VAR dari Badan Geologi KESDM, asap kawah bertekanan lemah berwarna putih tebal teramati mencapai tinggi 425 meter di atas puncak kawah. Gunung terlihat jelas dengan kabut level 0-III.
Baca Juga: Rela Antre Sejam Demi Foto Ikonik ala Koran, Mesin Photobox Tugu Jogja Jadi Daya Tarik Baru Wisata
Rincian Kegempaan:
Awan Panas Guguran: 1 kali (amplitudo 15 mm, durasi 132,47 detik)
Guguran: 155 kali (amplitudo 2-31 mm, durasi 33-185,22 detik)
Hybrid/Fase Banyak: 80 kali (amplitudo 2-43 mm, durasi 7,79-121,29 detik)
Tektonik Jauh: 3 kali (amplitudo 3-5 mm, durasi 62,53-108,07 detik)
Baca Juga: Evolusi Photobox: Dari Tren Tahun 1800-an Kini Menjamu Budaya Visual di Jalanan Jogja
Selain itu, teramati 19 kali guguran lava mengarah ke Barat Daya (Kali Sat/Putih, Kali Bebeng, dan Kali Krasak) dengan jarak luncur maksimum 2.000 meter.
Kondisi meteorologi di sekitar Merapi cerah hingga mendung, angin bertiup tenang ke arah selatan, timur, dan utara. Suhu udara berkisar 17,8–23,37 °C, kelembaban 76,6–95,5 persen, tekanan udara 872,6–917,7 mmHg, dengan curah hujan 10 mm per hari.
Potensi Bahaya dan Rekomendasi BPPTKG:
Potensi bahaya utama berupa guguran lava dan awan panas guguran (APG) pada sektor selatan-barat daya:Sungai Boyong maksimal 5 km
Sungai Bedog, Krasak, Bebeng maksimal 7 km
Pada sektor tenggara:Sungai Woro maksimal 3 km
Sungai Gendol maksimal 5 km
Lontaran material vulkanik jika terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak. Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung, sehingga masyarakat diminta tidak melakukan kegiatan apapun di dalam daerah potensi bahaya.
Baca Juga: Andy Irfan Jadi Spesialis Super Sub saat Lawan Capek
BPPTKG juga mengingatkan warga untuk mewaspadai bahaya lahar dan awan panas guguran terutama saat hujan deras di sekitar Gunung Merapi, serta mengantisipasi gangguan abu vulkanik yang dapat mengganggu kesehatan dan aktivitas sehari-hari.
"Jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, tingkat aktivitas Gunung Merapi akan segera ditinjau kembali," demikian keterangan resmi.
Status saat ini tetap Level III (Siaga). Masyarakat di Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten diimbau selalu mengikuti arahan BPPTKG serta tidak mendekati kawasan rawan bencana.
Baca Juga: Frédéric Injaï Tak Pikirkan Capaian Pribadi, Kemenangan PSS Sleman yang Utama
Laporan ini disusun oleh petugas pos pengamatan Surono dan Yulianto berdasarkan data dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta, KESDM. (iwa)
Badan Geologi KESDM, asap kawah bertekanan lemah berwarna putih tebal teramati mencapai tinggi 425 meter di atas puncak kawah. Gunung terlihat jelas dengan kabut level 0-III.
Rincian Kegempaan:
Awan Panas Guguran: 1 kali (amplitudo 15 mm, durasi 132,47 detik)
Guguran: 155 kali (amplitudo 2-31 mm, durasi 33-185,22 detik)
Hybrid/Fase Banyak: 80 kali (amplitudo 2-43 mm, durasi 7,79-121,29 detik)
Tektonik Jauh: 3 kali (amplitudo 3-5 mm, durasi 62,53-108,07 detik)
Selain itu, teramati 19 kali guguran lava mengarah ke Barat Daya (Kali Sat/Putih, Kali Bebeng, dan Kali Krasak) dengan jarak luncur maksimum 2.000 meter.
Kondisi meteorologi di sekitar Merapi cerah hingga mendung, angin bertiup tenang ke arah selatan, timur, dan utara. Suhu udara berkisar 17,8–23,37 °C, kelembaban 76,6–95,5 persen, tekanan udara 872,6–917,7 mmHg, dengan curah hujan 10 mm per hari.
Potensi Bahaya dan Rekomendasi BPPTKG:
Potensi bahaya utama berupa guguran lava dan awan panas guguran (APG) pada sektor selatan-barat daya:Sungai Boyong maksimal 5 km
Sungai Bedog, Krasak, Bebeng maksimal 7 km
Pada sektor tenggara:Sungai Woro maksimal 3 km
Sungai Gendol maksimal 5 km
Lontaran material vulkanik jika terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak. Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung, sehingga masyarakat diminta tidak melakukan kegiatan apapun di dalam daerah potensi bahaya.
BPPTKG juga mengingatkan warga untuk mewaspadai bahaya lahar dan awan panas guguran terutama saat hujan deras di sekitar Gunung Merapi, serta mengantisipasi gangguan abu vulkanik yang dapat mengganggu kesehatan dan aktivitas sehari-hari.
"Jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, tingkat aktivitas Gunung Merapi akan segera ditinjau kembali," demikian keterangan resmi.
Status saat ini tetap Level III (Siaga). Masyarakat di Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten diimbau selalu mengikuti arahan BPPTKG serta tidak mendekati kawasan rawan bencana.
Laporan ini disusun oleh petugas pos pengamatan Surono dan Yulianto berdasarkan data dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta, KESDM. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin