SLEMAN - Puncak arus mudik di tol fungsional Purwomartani-Prambanan diperkirakan jatuh pada Rabu (18/3) lalu.
Berdasarkan data dari smart province DIY pada hari tersebut tercatat ada 5.716 kendaraan yang masuk ke tol.
Jika membandingkan dengan waktu yang sama dengan operasional tol fungsional ini, yakni pukul 06.00 hingga 18.00, Tol Purwomartani jadi yang paling banyak dimasuki kendaraan.
Sementara gerbang tol lain seperti Banyudono, Polanharjo, Klaten, dan Prambanan rata-rata sekitar 1.400 hingga 2.800 kendaraan yang masuk.
Kasi Audit dan Inspeksi Ditlantas Polda DIY, Sutrisno menjelaskan, untuk kepadatan kendaraan di jalur tol yang dibuka fungsional pada Senin (16/3) lalu ini masih terkendali.
Belum sampai dilakukan penutupan karena kepadatan yang terlalu panjang.
Walau demikian, memang pada Selasa (17/3) tercatat ada 16 kendaraan yang masuk ke Tol Purwomartani lebih dari pukul 18.00.
Mereka disebut hanya merupakan ekor antrean kendaraan.
"Untuk ruas Jalan Jogja-Solo juga masih aman dan terhindar dari kemacetan," katanya ditemui di Pos Pantau Tol Purwomartani, Kamis (19/3).
Jika nantinya terjadi kemacetan di ruas Jalan Jogja-Solo, dia sebut telah disiapkan rekayasa lalu lintas dengan penutupan sembilan dari 12 titik putar balik.
Nantinya hanya tinggal tiga titik yang dibuka, yakni di AAU, Telkom, dan Sendang Ayu agar kendaraan tidak tersendat.
Menurut Sutrisno, puncak kepadatan di tol ini terjadi pada sore hari.
Hal ini sesuai jika menilik data pada Rabu (18/3) puncak pada pukul 16.00-17.00 dengan 651 kendaraan.
Lalu Selasa (17/3) juga pada jam yang sama dengan 495 kendaraan.
Dia menilai kondisi ini terjadi karena pemudik ingin menikmati perjalanan yang teduh.
Selama dibuka empat hari ini dia sebut juga tidak ada kejadian menonjol di Tol Purwomartani.
Baik itu kecelakaan maupun mobil mogok.
Untuk kejadian darurat dia sebut telah disiapkan mobil derek maupun penerapan contraflow.
"Semua masih aman dan tidak ada permasalahan. Dimungkinkan nanti jika cuaca buruk dan kondisi gelap bisa juga ditutup lebih cepat," ujarnya.
Selama pembukaan posko sendiri dia sebut petugas lebih banyak memberikan informasi pada pengendara.
Meski sudah banyak diberikan tanda petunjuk, sebagian pemudik tetap bertanya terkait operasional tol fungsional.
Petugas juga sempat mencegat bus yang mau masuk karena tol ini baru diperbolehkan untuk golongan I non-bus.
Ada juga kejadian mobil yang tidak jadi masuk karena berniat turun di Gerbang Tol (GT) Prambanan.
"Tapi untuk keluar di GT Prambanan enggak bisa, paling dekat di GT Klaten. Lalu sebelum masuk kami arahkan putar balik," tambahnya.
Selama kendaraan melewati tol fungsional ini dia turut mengimbau agar pengendara tetap mematuhi batas kecepatan maksimal, yakni 40 kilometer per jam.
Kesiapan tol fungsional dengan yang sudah operasional dia tegaskan tidak bisa disamakan.
Sementara itu, salah satu warga Sleman, Gunawan yang turut melewati Tol Purwomartani ini mengaku, masuk dari GT Purwomartani lalu keluar di GT Klaten.
Tarif masuk di GT Purwomartani masih gratis dan hanya tapping e-money saja.
Sementara untuk ruas GT Prambanan hingga GT Klaten dikenai tarif sebesar Rp 15 ribu.
Saat lewat pada Senin (16/3) lalu dia sebut kondisi tol tidak terlalu padat dan arus juga lancar.
Tol dia sebut memang bisa memangkas waktu tempuh perjalanan.
Hanya saja untuk beton jalannya masih ada yang menggeronjal, berbeda dengan tol yang sudah resmi.
"Kalau lewat jalan biasa tentu harus melewati banyak persimpangan dan lampu merah untuk sampai Klaten," ujarnya. (del)
Editor : Iwa Ikhwanudin