SLEMAN - Prevalensi stunting Kabupaten Sleman menunjukkan tren positif. Angka stunting berhasil ditekan dari 4,41 persen di tahun 2024 menjadi 4,29 persen pada 2025.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Sleman Novita Krisnaeni menjelaskan, salah satu tahapan penting dalam penanganan stunting adalah pra-musrenbang tematik stunting. Di sini dilakukan identifikasi kendala sekaligus mengevaluasi program yang telah berjalan.
Menurutnya, hal ini sesuai dengan rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD) dalam mencetak sumber daya manusia berkualitas di Bumi Sembada. “Percepatan penurunan stunting adalah prioritas utama karena berdampak langsung pada kualitas generasi penerus," katanya dalam kegiatan pra-musyawarah tematik stunting di Aula Lantai 3 Kantor Setda Sleman Rabu (11/3).
Lewat kegiatan ini, dihimpun usulan dan deklarasi komitmen lintas sektor untuk menyusun rencana aksi konvergensi terintegrasi. Kegiatan sendiri dihadiri oleh 135 orang. Terdiri dari tim percepatan penurunan stunting, panewu, kalurahan, organisasi kemasyarakat, perwakilan swasta, hingga tokoh masyarakat. Harapannya komitmen lintas sektir bisa diperkuat dan terjadi percepatan penurunan angka stunting.
Dia meminta seluruh stakeholder berkolaborasi tanpa melempar tanggung jawab. “Stunting bukan urusan satu dinas saja. Kita harus bekerja sama. Jika ada keterbatasan anggaran, carilah solusi melalui kolaborasi antarsektor ,” ucapnya.
Acara diakhiri dengan pembacaan deklarasi dan penandatanganan komitmen bersama percepatan penurunan stunting. Hal ini bertujuan memastikan program pencegahan berjalan selaras hingga tingkat paling bawah demi menyiapkan Generasi Emas Indonesia 2045. (del/eno)