Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Gunung Merapi Kembali Muntahkan Awan Panas, 7 Guguran Lava Meluncur ke Kali Boyong

I
Penulis: Iwa Ikhwanudin❯
Ilustrasi Awan panas guguran gunung Merapi.
Ilustrasi Awan panas guguran gunung Merapi.

Advertisement

 SLEMAN – Aktivitas Gunung Merapi masih menunjukkan tanda-tanda dinamika yang perlu diwaspadai. Dalam periode pengamatan Senin (10/8/2026) pukul 00.00-24.00 WIB, gunung api yang berada di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah itu tercatat mengalami dua kali awan panas guguran.

Aktivitas tersebut menjadi salah satu indikator bahwa proses di dalam tubuh Gunung Merapi masih berlangsung. Status Merapi hingga kini tetap berada pada Level III atau Siaga.

Berdasarkan laporan MAGMA-VAR yang bersumber dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Badan Geologi, PVMBG, serta Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), dua awan panas guguran yang terjadi memiliki amplitudo 66-74 milimeter dengan durasi sekitar 80 hingga 135 detik.

Advertisement

Selain awan panas guguran, aktivitas kegempaan Merapi juga cukup ramai. BPPTKG mencatat sebanyak 80 kali gempa guguran, dengan amplitudo 2-120 milimeter dan durasi 28 hingga 164 detik.

Kemudian terjadi 70 kali gempa hybrid atau fase banyak, tujuh kali gempa vulkanik dangkal, serta lima kali gempa tektonik jauh.

Advertisement

Rangkaian aktivitas tersebut menggambarkan bahwa Merapi belum benar-benar tenang. Suplai magma masih berlangsung dan kondisi itu berpotensi memicu terjadinya awan panas guguran, terutama di kawasan yang masuk dalam zona bahaya.

Di permukaan, Merapi sempat terlihat jelas meski pada beberapa waktu tertutup kabut. Asap kawah bertekanan lemah juga teramati berwarna putih dengan intensitas tipis. Kepulan asap tersebut mencapai ketinggian sekitar 300 meter di atas puncak kawah.

Yang juga perlu menjadi perhatian adalah aktivitas guguran lava. Dalam satu hari pengamatan, tercatat tujuh kali guguran lava meluncur ke arah Kali Boyong. Jarak luncur terjauh mencapai sekitar 1.900 meter.

Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa lereng Merapi masih menyimpan potensi bahaya. Terlebih ketika hujan turun di sekitar puncak dan lereng gunung.

BPPTKG menyebut potensi bahaya guguran lava dan awan panas berada terutama di sektor selatan-barat daya. Kawasan yang perlu diwaspadai mencakup alur Sungai Boyong hingga lima kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga tujuh kilometer.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar JogjaIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Ketua Komisi A DPRD DIY Eko Suwanto Serahkan Bantuan Alat Penanggulangan Bencana

Ketua Komisi A DPRD DIY Eko Suwanto Serahkan Bantuan Alat Penanggulangan Bencana

Ketua Komisi A DPRD DIY Eko Suwanto secara khusus mendorong  Pemda DIY mengambil langkah konkret dan responsif mengantisipasi dampak bencana kekeringan. Potensi ancaman ini memerlukan kewaspadaan tinggi dan kolaborasi li

Relawan Bencana di Kebumen Dilatih Respons Darurat saat di Hutan atau Medan Sulit

Relawan Bencana di Kebumen Dilatih Respons Darurat saat di Hutan atau Medan Sulit

Relawan dari berbagai komunitas mengikuti pelatihan tanggap darurat bencana yang digelar BPBD Kebumen. (Dokumentasi BPBRelawan Bencana di Kebumen Dilatih Respons Kondisi dan Situasi Darurat saat di Hutan atau Medan Sulit

Unik, PDI Perjuangan Kota Jogja Selenggarakan Simulasi Bencana dan Penanaman Pohon di Momen Pelantikan Pengurus: Ini Alasannya!

Unik, PDI Perjuangan Kota Jogja Selenggarakan Simulasi Bencana dan Penanaman Pohon di Momen Pelantikan Pengurus: Ini Alasannya!

Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kota Jogja menerapkan cara unik untuk melantik jajaran pengurus partai. Yakni ditambah simulasi penyelamatan bencana dan penanaman ratusan bibit pohon di Sungai Gajahwong pada..

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer