SLEMAN - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sleman telah melakukan pengujian kualitas air di 11 sungai yang melewati Bumi Sembada. Dari target 75, indeks yang dihasilkan hanya 72. Kondisi turut dipengaruhi tingginya pencemaran bakteri Escherichia coli (E coli).
Plt Kepala DLH Sleman Sugeng Riyanta menjelaskan, sungai yang diuji di antaranya Sungai Winongo, Sungai Code, Sungai Opak, Sungai Boyong, serta anak-anak sungai. Pengujian tiap-tiap sungai dilakukan di tiga titik. Mulai dari hulu, tengah, dan hilir.
Pengujian ini turut mencakup berbagai parameter. Seperti pH, biological oxygen demand, chemical oxygen demand, total suspended solid, hingga kadar nitrit. "Dengan indeks yang bernilai sedang, tentu kami harap kualitas airnya bisa baik," katanya dalam jumpa pers yang digelar Selasa (3/3).
Menurutnya, dalam mengembalikan tingkat kualitas air ini tidak hanya menjadi tugas DLH saja. Lantaran kondisi ini tidak hanya disebabkan karena sungai yang menjadi tempat pembuangan sampah. Namun, juga pembuangan limbah dari kegiatan peternakan dan pertanian ketika ada buangan dari kotoran hewan, limpasan penggunaan pestisida, hingga penggunaan pupuk kandang yang belum matang.
Termasuk sektor pariwisata dengan adanya hotel dan restoran. Begitu juga dengan sektor kesehatan dengan adanya rumah sakit dan klinik. Usaha-usaha ini memang dilengkapi instalasi pengolahan air. Hanya saja yang jadi pekerjaan rumah adalah memastikan buangan air sudah sesuai dengan standar baku mutu.
"Indikator kualitas lingkungan hidup ada tiga komponen, air, udara, dan lahan. Untuk udara dan lahan masih aman statusnya baik," tambahnya. Editor : Sevtia Eka Novarita