SLEMAN - Angka fatalitas di Kabupaten Sleman atas kasus leptospirosis cukup jadi perhatian. Jumlahnya seringkali berada di atas lima hingga sepuluh persen. Kondisi ini terjadi karena pasien terlambat datang ke fasilitas kesehatan. Sehingga sudah terjadi gagal ginjal atau gangguan hati.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman Khamidah Yuliati menjelaskan, pada 2025 terjadi sebanyak 423 kasus dengan sembilan kematian. Kasus tertinggi memang berada di kapanewon yang memiliki lahan pertanian dan irigasi aktif. Meliputi Moyudan, Minggir, Prambanan, dan Ngemplak.
Persoalannya, kasus tidak terbatas di lokasi-lokasi itu. Penyebaran juga mencapai daerah lingkungan padat, seperti Depok, Ngaglik, Mlati dan Pakem. "Musim hujan ini berpengaruh sangat signifikan," katanya Minggu (15/2).
Yuli menilai, genangan air hujan atau banjir membawa urin tikus yang terinfeksi bakteri leptospira ke lingkungan manusia. Dia turut menyoroti pengolahan sampah terutama sampah organik yang merupakan sumber makanan tikus di daerah lingkungan padat penduduk. Walau demikian, saat ini belum ada status kejadian luar biasa (KLB) yang diterapkan. Status yang ada adalah kewaspadaan ketat. Pemantauan dilakukan layaknya penanganan darurat karena sifatnya yang mematikan.
"Faktor utama karena air atau tanah tercemar yang berkontak dengan kulit, terutama yang memiliki luka," katanya.
Untuk mengatasi populasi tikus di lingkungan permukiman dan persawahan yang tidak terkendali juga dilakukan berbagai upaya. Salah satunya lewat pemasangan perangkap dan gropyokan tikus berkoordinasi dengan dinas pertanian. Yuli juga menyebut, puskesmas juga turut dibekali dengan rapid diagnostic test sebagai upaya deteksi ini. Targetnya adalah menurunkan angka fatalitas hingga nol persen.
"Petugas surveilans aktif melakukan penyelidikan epidemiologi maksimal 24 jam setelah laporan kasus masuk," tambahnya.
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Sleman Rofiq Andriyanto menyebut, telah melaksanakan gerakan pengendalian tikus. Baik itu dengan gropyokan, pengumpanan, pengemposan, dan pemanfaatan musuh alami.
"Termasuk dengan melibatkan komunitas sniper seperti yang dilaksanakan di Sendangmulyo, Minggir," ucapnya. (del/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita