Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Cuaca Tak Menentu Berpotensi Tingkatkan Kasus PMK, Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Tinjau Vaksinasi di Sleman

Delima Purnamasari • Kamis, 29 Januari 2026 | 20:27 WIB
Tinjauan vaksinasi ternak oleh Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Agung Suganda Kamis (29/1/2026).
Tinjauan vaksinasi ternak oleh Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Agung Suganda Kamis (29/1/2026).

SLEMAN - Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Agung Suganda melakukan tinjauan ke Kelompok Ternak Lestari Mulyo, Trimulyo, Sleman pada Kamis (29/1/2026).

Kegiatan ini dalam rangka meninjau pelaksanaan vaksinasi penyakit mulut dan kuku (PMK).

Agung menegaskan, petani jangan sampai terlena dan lengah menghadapi virus ini. Vaksinasi harus dilakukan secara rutin, enam bulan sekali.

Hal ini demi mencapai target nol kasus. Terlebih, di Pulau Jawa yang populasinya padat dan masuk zona pemberantasan.

"Alhamdulillah di kelompok ini sejak 2022 tidak ada kasus. Tentu harus dipertahankan. Salah satunya dengan vaksinasi," terangnya ditemui di sela-sela acara.

Dia juga mengingatkan agar peternak waspada. Lantaran potensi munculnya PMK lebih tinggi pada saat cuaca kurang baik seperti ini.

Kalau pun ternak sakit, jangan didistribusikan maupun dijual. Harus diobati dahulu hingga sehat.

Program ini yang terus diupayakan utamanya dalam menghadapi Idul Fitri maupun Idul Adha ke depan.

Pada 2026 ini Kementerian Pertanian sendiri sudah mengalokasikan empat juta dosis vaksin di 29 provinsi endemik. Sementara untuk DIY sebanyak 104.000 dosis untuk dua kali periode.

Baca Juga: Beri Perhatian Penuh! Kawal Penanganan Banjir di Pekalongan, Wagub Jateng Pastikan Kelayakan Fasilitas Bagi Pengungsi

"Di DIY sudah tercatat 174 kasus dan ini harus direspons dengan penanganan efektif," katanya.

Sementara itu, Kepala Balai Besar Veteriner Wates Nur Saptahidhayat menyebut, setiap ada laporan kasus maka akan langsung dilakukan pengambilan sampel untuk pengujian.

Baik itu tes swab maupun mengambil sampel darah. Langkah penting yang selanjutnya harus dilakukan adalah melakukan isolasi hewan sakit. Lalu dilakukan pengobatan.

Baca Juga: Usai Rampung, Pemanfaatan KNMP Poncosari Tertahan Skema Kerja Sama Nelayan: Pengelola Masih Mematangkan Pengelolaan Sentra kuliner

"PMK kalau tidak ada penyakit lain itu masih bisa diobati dengan antibiotik. Yang penting jangan lepas kukunya karena biasanya nanti tidak bisa berdiri," katanya.

Nur menilai, kondisi di musim hujan dengan cuaca dingin ini memang lebih rawan. Lantaran virus memiliki daya tahan lebih lama.

Beda jika di musim kemarau yang biasanya bisa mati karena panas matahari

"Ada dua yang penting. Vaksinasi dan menjaga kebersihan kandang. Kalau itu dilakukan pasti kasus akan turun," tambahnya. (del)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#Sleman #tinjau vaksinasi #Dirjen Peternakan #kelompok ternak #cuaca tak menentu #Kasus PMK