YOGYAKARTA – BPPTKG Yogyakarta memastikan tidak terjadi peningkatan aktivitas Gunung Merapi setelah wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) diguncang dua kali gempa bumi tektonik, Selasa (27/1/2026).
Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Agus Budi Santoso, menyampaikan bahwa gempa tektonik tersebut sempat dirasakan masyarakat di sekitar DIY, termasuk oleh petugas di Pos Pengamatan Gunung Merapi Babadan, Magelang.
“Stasiun pemantauan kegempaan Gunung Merapi merekam kejadian gempa tersebut. Namun hingga saat ini tidak tampak adanya tanda-tanda peningkatan aktivitas Gunung Merapi,” ujar Agus Budi Santoso dalam keterangannya.
Parameter Merapi Masih Normal
BPPTKG menegaskan, hasil pemantauan menunjukkan parameter kegempaan dan deformasi Gunung Merapi masih stabil. Data deformasi dari GB InSAR Stasiun Turgo dan Babadan tidak menunjukkan adanya anomali pascagempa tektonik yang terjadi.
“Baik dari pemantauan kegempaan maupun deformasi, kondisinya masih dalam batas normal,” jelasnya.
Awan Panas Guguran Terjadi Sore Hari
Sementara itu, Badan Geologi melaporkan terjadi awan panas guguran (APG) di Gunung Merapi pada Selasa sore.
Peristiwa tersebut terjadi pada pukul 16.13 WIB, dengan jarak luncur sekitar 1.000 meter ke arah Barat Daya, tepatnya menuju hulu Kali Boyong. Awan panas guguran tercatat memiliki amplitudo maksimum 39,07 mm dengan durasi 109,32 detik. Saat kejadian, arah angin bertiup ke Timur.
Status Merapi Tetap Siaga
BPPTKG menegaskan bahwa status aktivitas Gunung Merapi masih SIAGA (Level III), yang telah ditetapkan sejak 5 November 2020. Masyarakat diminta untuk tetap mematuhi rekomendasi resmi dan tidak melakukan aktivitas di kawasan rawan bahaya.
BPPTKG juga mengimbau warga agar tidak terpancing informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan dan selalu memantau perkembangan resmi aktivitas Merapi melalui kanal Badan Geologi dan BPPTKG. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin