Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Usai Diminta Pindah, Tak Ada Pedagang Pisang yang Masuk ke Pasar Pakem

Delima Purnamasari • Senin, 5 Januari 2026 | 21:00 WIB

Pedagang pisang di Pasar Pakem yang memilih berjualan di area luar.
Pedagang pisang di Pasar Pakem yang memilih berjualan di area luar.


SLEMAN - Pedagang pisang Pakem sempat diminta pindah dari area Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Grhasia pada April 2025 lalu. Lantaran rumah sakit akan membangun poli klinik dan ruang rawat inap pelayanan umum. Saat itu, opsi yang ditawarkan adalah masuk ke Pasar Pakem. Nantinya biaya retribusi selama setahun penuh akan dibayarkan oleh RSJ Grhasia.

Berdasarkan pantauan Radar Jogja, pedagang pisang hanya bergeser dari lokasi sebelumnya. Beberapa ada yang berjualan di trotoar. Ada juga yang menyewa kios bersama-sama.

Baca Juga: Penumpang Bandar Udara Adisutjipto Meningkat 123 Persen, Penerbangan Jakarta Masih Mendominasi

Salah satu pedagang pisang, Hartini menjelaskan, tidak ada penjual pisang yang mau masuk ke pasar. Lantaran operasionalnya hanya sampai tengah hari dan tempat berjualannya sempit. Lokasinya juga tidak bisa digunakan untuk bermalam. Dia sendiri memillih untuk menyewa lapak bersama tiga orang lainnya dengan biaya setahun Rp24 juta. Belum termasuk listrik dan air.

"Enggak mau masuk pasar, tidak bisa tidur di situ. Jam 12 sudah enggak ada orang. Jadi pada cari tempat sendiri-sendiri," katanya ditemui di sela-sela berdagang Senin (5/1).

Baca Juga: Evakuasi Dramatis di Grabag: Petugas Basarnas Harus Menyelam di Kedalaman Sumur 20 Meter

Sementara di tempat yang dia sewa, terkadang ada rekan yang menginap. Ada juga yang memilih untuk pulang pergi lantaran semuanya merupakan warga Klaten. Jumlah totalnya mencapai 17 pedagang. Hartini bercerita, di area RSJ Grhasia pedagang sudah berjualan 15 tahun lamanya. Mau tak mau memang mereka harus pindah karena tidak memiliki izin.

"Memang untungnya jadi mepet karena sewanya mahal kalau di pinggir jalan ini," katanya.

Bersama teman-temannya, dia menjual berbagai jenis pisang. Mulai dari pisang ambon, pisang raja, pisang ulin, hingga pisang emas. Pendapatannya tidak pasti. Terkadang satu orang dalam sehari mendapat Rp 150 ribu.

Baca Juga: FK UAJY Bersama Gereja Babasari dan Polda DIY Gelar Bakti Sosial Kesehatan

Hal senada diungkapkan pedagang pisang yang lain, Deni. Dia mengaku tidak mau berjualan pisang di dalam Pasar Pakem karena takut tidak laku. Menurutnya, dari segi penjualan memang ada penurunan dibanding dulu. Pedagang bisa berjualan 24 jam karena kerap tinggal di lapak.

"Kalau sekarang saya jualan dari jam lima sampai jam satu saja. Jadi jelas berkurang," katanya.

Sementara itu, Direktur RSJ Grhasia Akhmad Akhadi menilai, barangkali keputusan dari pedagang pisang ini adalah yang terbaik. Lantaran jika berjualan di dalam Pasar Pakem berada di sentra buah di bagian belakang. Jadi, berpotensi memengaruhi pendapatannya. Hanya saja, jika tidak berada di Pasar Pakem, RSJ Grhasia tidak bisa membiayai. Hal ini sudah sesuai dengan kesepakatan.

"Kalau tidak ke pasar enggak bisa karena spektrumnya besar banget. Misal ternyata maunya masuk ke mal, masak kami biayai," katanya. (del) 

 
 
 
Editor : Sevtia Eka Novarita
#rsj #Pedagang Pisang #pasar pakem #Trotoar #rumah sakit jiwa #Lapak #pakem #rsj grhasia