SLEMAN — Aktivitas Gunung Merapi yang berada di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah masih tergolong tinggi. Berdasarkan laporan resmi Magma-VAR Badan Geologi, Gunung Merapi tercatat mengalami puluhan kejadian guguran selama periode pengamatan 19 Desember 2025 pukul 00.00–24.00 WIB.
Gunung Merapi yang memiliki ketinggian 2.968 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini berada di wilayah administratif Kabupaten Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten. Hingga saat ini, status aktivitas Merapi masih berada pada Level III (Siaga).
Kondisi Meteorologi dan Visual Merapi
Secara meteorologis, cuaca di sekitar Gunung Merapi dilaporkan cerah hingga hujan. Angin bertiup tenang ke arah barat dan timur dengan suhu udara berkisar 17,1–26,9 derajat Celsius, kelembaban 69,3–98,9 persen, serta tekanan udara 868,6–913,8 mmHg. Curah hujan tercatat mencapai 7 mm per hari.
Dari pengamatan visual, gunung terlihat jelas meski sesekali tertutup kabut tipis hingga sedang. Teramati asap kawah berwarna putih dengan intensitas tipis, bertekanan lemah, dan tinggi sekitar 10 meter di atas puncak kawah.
Aktivitas Kegempaan Masih Tinggi
Aktivitas seismik Gunung Merapi menunjukkan dinamika yang signifikan. Tercatat 82 kali gempa guguran dengan amplitudo 2–35 mm dan durasi 42,48–212,76 detik. Selain itu, terdapat 57 kali gempa hybrid atau fase banyak dengan amplitudo 2–37 mm, selisih waktu S–P 0,2–0,8 detik, serta durasi 13,33–59,47 detik.
Petugas juga mengamati lima kali guguran lava yang mengarah ke Kali Sat/Putih, Kali Krasak, dengan jarak luncur maksimum mencapai 1.900 meter.
Potensi Bahaya dan Rekomendasi
Badan Geologi menyebut potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas guguran (APG) pada sektor selatan hingga barat daya, meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 km, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga 7 km. Pada sektor tenggara, potensi bahaya mencakup Sungai Woro sejauh 3 km dan Sungai Gendol hingga 5 km.
Selain itu, lontaran material vulkanik jika terjadi letusan eksplosif berpotensi menjangkau radius 3 km dari puncak. Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung, sehingga kemungkinan terjadinya awan panas guguran masih terbuka.
Masyarakat diimbau tidak melakukan aktivitas apa pun di zona potensi bahaya, serta mewaspadai ancaman lahar dan APG, terutama saat hujan turun di sekitar Gunung Merapi. Warga juga diminta mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik.
“Jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, maka tingkat aktivitas Gunung Merapi akan segera ditinjau kembali,” demikian keterangan dalam laporan yang disusun oleh Yulianto.
Sumber Resmi
Data laporan ini bersumber dari Kementerian ESDM, Badan Geologi, PVMBG, serta Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melalui laman resmi magma.esdm.go.id. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin