SLEMAN – Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan bahwa aktivitas vulkanik Gunung Merapi (2968 mdpl) masih tinggi. Dalam periode pengamatan pagi hari, tepatnya 10 Desember 2025, pukul 06:00 hingga 12:00 WIB, tercatat puluhan kali gempa guguran dan gempa hybrid, menunjukkan suplai magma ke permukaan masih berlangsung.
Berdasarkan laporan resmi MAGMA-VAR yang dirilis oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), status aktivitas Gunung Merapi saat ini masih berada pada Level III (Siaga).
Kegempaan Masih Dominan. Secara visual, gunung diselimuti kabut. Asap kawah terpantau nihil. Namun, aktivitas kegempaan didominasi oleh dua jenis gempa penting:
Guguran: Tercatat sebanyak 24 kali dengan amplitudo 2-20 mm dan durasi antara 77 hingga 153 detik. Gempa guguran ini mengindikasikan adanya pergerakan atau runtuhan material lava di lereng.
Hybrid/Fase Banyak: Tercatat sebanyak 13 kali dengan amplitudo 2-26 mm. Gempa hybrid mencerminkan adanya pergerakan fluida (cairan/gas) di dalam tubuh gunung yang berkaitan erat dengan suplai magma.
Radius Bahaya Dipertahankan. Meskipun cuaca di sekitar Merapi cenderung mendung dan berawan, BPPTKG menegaskan bahwa potensi bahaya masih mengancam warga di lereng gunung.
Kepala BPPTKG melalui laporan tersebut menyatakan bahwa potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awanpanas guguran (APG) pada sektor:
1. Selatan-Barat Daya: Meliputi Sungai Boyong (maksimal 5 km), serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng (maksimal 7 km).
2. Tenggara: Meliputi Sungai Woro (maksimal 3 km) dan Sungai Gendol (5 km).
Selain itu, lontaran material vulkanik jika terjadi letusan eksplosif berpotensi menjangkau radius 3 km dari puncak.
Imbauan Waspada Laher dan Abu Vulkanik: BPPTKG mengimbau masyarakat agar tidak melakukan aktivitas apa pun di daerah potensi bahaya yang telah ditetapkan.
Warga di sekitar Gunung Merapi juga diminta untuk:
Mewaspadai bahaya lahar dingin dan awanpanas guguran terutama saat terjadi hujan di seputar puncak.
Mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik dari erupsi yang mungkin terjadi.
"Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung yang dapat memicu terjadinya awanpanas guguran di dalam daerah potensi bahaya," demikian keterangan yang disampaikan penyusun laporan, Erwin Widyon. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin