SLEMAN - Pimpinan KPK ingin misi pemberantasan korupsi berhasil sebagaimana program keluarga berencana (KB). Di masa lalu, kampanye KB terus dilakukan dengan mengingatkan pentingnya memiliki dua anak cukup. Program itu ternyata berhasil.
“Muncul kesadaran di masyarakat. Kami juga ingin membangun kesadaran itu dalam pemberantasan korupsi. Khususnya di bidang pencegahan,” ucap Wakil Ketua KPK Fitroh Rohcahyanto saat bersilaturahmi ke kantor Radar Jogja Minggu (7/12).
Pentingnya pencegahan itu akan terus disuarakan KPK melalui kampanye terus menerus. Melalui berbagai sarana dan media. Pelaksanaan Hari Antikorupsi Sedunia (Hakordia) 2025 yang dipusatkan di Jogja merupakan bagian dari kampanye tersebut. Acara berlangsung selama beberapa hari. Mulai 6 hingga 9 Desember.
Berbagai acara yang melibatkan masyarakat dihelat. Dari kampanye budaya hingga pentas musik. Lokasinya antara lain depan gedung DPRD DIJ, Titik Nol Kilometer dan Teras Malioboro. Puncaknya diadakan di Bangsal Kepatihan pada Selasa (9/12).
KPK sengaja memusatkan kegiatan Hakordia yang biasanya jauh dari masyarakat di gedung tertutup.“Ini sengaja di ruang terbuka agar masyarakat ikut peduli," ajaknya.
Fitroh ingin mengajak media agar terus ikut mengawal isu pemberantasan korupsi. Khususnya di DIJ. Diakui, umumnya media lebih tertarik dengan kegiatan penindakan KPK. Misalnya saat ada operasi tangkap tangan (OTT).
"Bila pemberitaan pencegahan juga dilakukan secara masif akan ikut mempengaruhi cara pandang masyarakat untuk tidak melakukan korupsi," tandasnya.
Dia menganalogikan upaya tersebut seperti penyuluhan program KB yang masif. Belakangan terbukti sukses di tengah masyarakat. Korupsi, menurut Fitroh, realitanya telah menjadi budaya sekaligus virus di Indonesia. "Kami akan terus mengajak media dalam mengampanyekan pemberantasan korupsi. Memang butuh waktu yang panjang," ucap mantan direktur penuntutan KPK ini.
Dari pengamatannya, kebanyakan kasus korupsi terjadi karena sistem politik seperti pemilihan kepala daerah. Calon kepala daerah umumnya harus mengeluarkan modal yang cukup besar agar terpilih. "Korupsi terjadi sebagai dampak sistem tersebut," ingatnya.
Piminan KPK berlatar belakang jaksa ini lantas mengutip pidato Presiden Prabowo Subianto. Karakter masyarakat Indonesia membutuhkan keteladanan dari pemimpinnya untuk sebuah perubahan. Bila kepalanya busuk maka dibawahnya juga ikut busuk. “Namun, kalau kepalanya sehat, di bawahnya juga akan ikut sehat,” ucap Fitroh.
Dalam kunjungan itu, Fitroh didampingi Deputi Bidang Informasi dan Data Eko Marjono, Direktur Gratifikasi dan Pelayanan Publik Arif Waluyo, Direktur Monitoring Aida Ratna Zulaiha dan Kasatgas AKBU KPK Ipi Mariyati Kuding.
Kehadiran pimpinan dan pejabat KPK itu disambut jajaran pimpinan Jawa Pos Radar Jogja seperti Senior Manager Kusno Setiyo Utomo, Pemimpin Redaksi Zakki Mubarok dan Wakil Pimpinan Redaksi Adib Lazwar Irkhami. Kemudian Redaktur Pelaksana Heru Pratomo, redaktur Sevtia Eka Novarita dan Winda Atika Ira Puspita serta redaktur online Ikhwanudin.
"Ini merupakan kunjungan Pimpinan KPK pertama, setelah belasan tahun sebelumnya Wakil KPK Bibit Samad Rianto juga berkunjung ke kantor kami," ujar Kusno saat membuka pertemuan tersebut.
Kunjungan tersebut diharapkan menjadi langkah lanjut dan kerja sama dengan media dalam upaya pemberantasan korupsi. Pemimpin Redaksi Radar Jogja Zakki Mubarok menambahkan, Radar Jogja selama ini aktif mendukung dalam penyebaran informasi terkai pemberantasan korupsi. Mulai dari pencegahan hingga penindakan oleh KPK. "Seperti kegiatan Hakordia tahun ini yang diadakan di Jogja kami ikut menggaungkan supaya informasi lebih masif," ujarnya.
Dikatakan, penindakan oleh KPK mempunyai nilai berita yang lebih bagus dibandingkan dengan pencegahan. Namun, Radar Jogja mencoba menyeimbangkan agar pencegahan juga dapat disebarluaskan ke masyarakat DIJ. "Kami terkadang kesulitan mengakses informasi ke KPK untuk melakukan konfirmasi di beberapa kasus korupsi di DIJ. Harapannya ini bisa menjadi catatan pimpinan KPK," kata Zakki. (oso/kus/laz)
Editor : Herpri Kartun