SLEMAN – Aktivitas vulkanik Gunung Merapi di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah masih terus berlangsung. Berdasarkan periode pengamatan terbaru pada Kamis pagi, 4 Desember 2025, pukul 06.00 hingga 12.00 WIB, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan adanya aktivitas guguran lava.
Dalam laporan yang disusun oleh pengamat Suratno dan Yulianto, teramati secara visual adanya 1 kali guguran lava dengan jarak luncur maksimum 1.000 meter (1 km). Luncuran material vulkanik ini mengarah ke sektor Barat Daya, tepatnya menuju hulu Kali Sat/Putih.
Selain pengamatan visual, data kegempaan juga menunjukkan aktivitas yang cukup intens. Tercatat terjadi 24 kali gempa Guguran dengan amplitudo 2-21 mm dan durasi hingga 266 detik. Selain itu, terekam pula 10 kali gempa Hybrid/Fase Banyak, yang mengindikasikan adanya pergerakan magma di dalam tubuh gunung.
Kondisi meteorologi di sekitar puncak Merapi terpantau hujan dengan suhu udara berkisar antara 19.6 hingga 22.8 °C. Visual gunung sempat tertutup kabut 0-III, namun asap kawah bertekanan lemah berwarna putih dengan intensitas sedang setinggi 100 meter di atas puncak kawah masih sempat teramati.
Hujan yang mengguyur kawasan puncak menjadi perhatian khusus bagi pihak berwenang terkait potensi bahaya sekunder berupa lahar hujan.
Rekomendasi BPPTKG: Waspada Lahar dan Awanpanas
Hingga saat ini, tingkat aktivitas Gunung Merapi masih ditetapkan pada Level III (Siaga). BPPTKG mengeluarkan rekomendasi tegas bagi masyarakat agar tidak melakukan kegiatan apapun di daerah potensi bahaya.
Berikut adalah rincian potensi bahaya saat ini:
Sektor Selatan-Barat Daya: Meliputi Sungai Boyong (maksimal 5 km), serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng (maksimal 7 km).
Sektor Tenggara: Meliputi Sungai Woro (maksimal 3 km) dan Sungai Gendol (maksimal 5 km).
Lontaran Material: Bila terjadi letusan eksplosif, material vulkanik dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.
BPPTKG menekankan poin penting terkait cuaca saat ini:
"Masyarakat agar mewaspadai bahaya lahar dan awanpanas guguran (APG) terutama saat terjadi hujan di seputar Gunung Merapi."
Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung, yang dapat memicu terjadinya awanpanas guguran sewaktu-waktu. Masyarakat diimbau untuk selalu memantau informasi terkini melalui saluran resmi PVMBG dan BPPTKG serta mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin