SLEMAN — Aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih tinggi.
Berdasarkan laporan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) untuk periode pengamatan 25 November 2025 pukul 00.00–24.00 WIB, tercatat satu kali awan panas guguran (APG) dan puluhan kali guguran lava pijar.
Dalam laporan yang dirilis melalui platform MAGMA Indonesia, disebutkan bahwa satu kali APG terekam dengan amplitudo 57 mm dan durasi 143,2 detik.
Selain itu, terjadi 57 kali gempa guguran dengan amplitudo 2–40 mm dan durasi 60,98–159,23 detik, serta 68 kali gempa hybrid/fase banyak yang mengindikasikan aktivitas magma di dalam tubuh gunung.
BPPTKG juga mencatat adanya 12 kali guguran lava pijar yang mengarah ke Kali Bebeng, Kali Krasak, dan Kali Sat/Putih dengan jarak luncur maksimum mencapai 2.000 meter.
Cuaca di sekitar Merapi pada hari pengamatan bervariasi antara berawan, mendung, hingga cerah.
Suhu udara berkisar antara 16,4–25,9 °C dengan kelembaban 69,7–98% dan tekanan udara 870,2–914,6 mmHg.
Secara visual, puncak gunung terlihat jelas meski sesekali tertutup kabut, namun asap kawah tidak teramati.
Hingga saat ini, status aktivitas Gunung Merapi masih berada pada Level III (Siaga).
Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan aktivitas apapun di wilayah potensi bahaya, terutama di sektor selatan–barat daya yang meliputi Sungai Boyong (maksimal 5 km), Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng (maksimal 7 km), serta sektor tenggara di sekitar Sungai Woro (maksimal 3 km) dan Sungai Gendol (maksimal 5 km).
BPPTKG menegaskan bahwa suplai magma masih berlangsung dan berpotensi memicu awan panas guguran.
Masyarakat juga diminta waspada terhadap potensi lahar saat hujan turun di sekitar puncak Merapi, serta mengantisipasi dampak abu vulkanik yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.
Jika terjadi perubahan signifikan dalam aktivitas vulkanik, status Merapi akan segera ditinjau kembali.
Untuk informasi resmi dan terkini, masyarakat dapat mengakses MAGMA Indonesia atau mengikuti kanal media sosial PVMBG. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin