SLEMAN - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menyebut keracunan pangan pada program makan bergizi gratis (MBG) di berbagai daerah endemik termasuk terjadi karena tingginya kadar nitrit. Tak terkecuali di Kabupaten Sleman. Kondisi ini terjadi karena penggunaan pupuk nitrogen berlebih oleh para petani.
Kepala Bidang Hortikultura dan Perkebunan Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) Sleman Eko Sugianto Ngadirin mengaku, belum bisa memberi jawaban soal statement tersebut. Karena harus dilakukan uji laboratorium pada sayuran setelah dipetik sebelum diolah.
Baca Juga: Mentan Amran : Beras Ilegal Ditindak, sebelum Bersandar di Batam
Namun, berbagai sampel sayuran telah diuji, dipastikan bebas residu pestisida. Penggunaan pupuk juga telah diatur dalam standar operasional budi daya. Sementara sayuran serta buah, biasanya menggunakan pupuk Nitrogen, Fosfor, dan Kalium (NPK). Sedangkan sayuran daun menggunakan pupuk Zwavelzure Ammoniak (ZA) atau Urea untuk perkembangan daun.
"Jenis sayuran memengaruhi pupuk yang diberikan dan jumlahnya," sebutnya saat dikonfirmasi melalui pesan singkat Selasa (25/11).
Baca Juga: Gadis di Bawah Umur Asal Bergas Dicabuli Oleh Trainer Gym, Pelaku Berhasil Ditangkap di Ambarawa.
Eko mengatakan, semua hal terkait dosis, cara, aplikasi, waktu, dan jenis pupuk selalu disampaikan. Khususnya dalam pembinaan kelompok melalui bimbingan teknis maupun pelatihan. Termasuk soal pupuk alternatif atau hayati pengganti pupuk kimia.
"Sifat fisik sayuran segar sendiri mudah rusak setelah dipanen dan tidak tahan penyimpanan," katanya.
Sementara itu, Kepala Pusat Studi Pangan dan Gizi UGM Sri Raharjo menjelaskan, pernyataan kepala BGN secara ilmiah masuk akal. Hubungan pupuk berlebih bisa menyebabkan akumulasi nitrat dalam tanaman dan menjadi nitrit.
Namun untuk memastikan validitasnya, diperlukan data yang lebih spesifik. Misalnya, daerah yang disebut endemik ini mestinya memiliki laporan keracunan massal yang lebih tinggi secara konsisten.
"Nitrat harus dikonversi dulu menjadi nitrit untuk menjadi racun," katanya.
Konversi ini bisa terjadi di dalam tubuh. Kemudian bisa terjadi saat buah dipotong, disimpan lama, atau mulai membusuk dan memungkinkan kerja bakteri perusak. Keracunan akut nitrit memerlukan konsentrasi yang sangat tinggi dalam waktu singkat.
Praktik pemupukan yang tidak terkendali disebut bisa menciptakan hot spot atau titik panas yang pada tanaman tertentu bisa mencapai level toksik. Tidak semua lahan atau tanaman mencapai level ini.
Baca Juga: Strategi Ampuh Mencegah Demam Berdarah di Musim Hujan
"Kondisi yang mungkin jadi pemicu dalam kasus MBG ini karena buah tinggi nitrat kemudian ditangani dengan cara yang memungkinkan konversi nitrit besar-besaran," katanya. (del/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita