Guna mendukung program ketahanan pangan diperlukan akselerasi pembangunan saluran irigasi. Khususnya saluran tersier dan sekunder.
Siang itu hujan mulai mengguyur wilayah Kalurahan Margomulyo, Seyegan. Namun rintik hujan tak menjadi halangan bagi Wakil Ketua Komisi C DPRD Kabupaten Sleman Shodiqul Qiyar saat meninjau pembangunan saluran irigasi sekunder di kawasan itu.
Menurutnya, percepatan pembangunan saluran irigasi sangat penting. Supaya seluruh saluran irigasi, primer, sekunder, dan tersier, segera tersambung. Mengingat saat ini masih masuk musim penghujan.
Sehingga air hujan yang jatuh ke bumi tak terbuang percuma. Tapi bisa mengalir ke lahan pertanian.
Qiyar mengatakan, jaringan irigasi yang langsung masuk lahan pertanin adalah saluran tersier. Nah, total panjang saluran irigasi tersier yang dibutuhkan di Kabupaten Sleman mencapai 7.170 kilometer.
Saat ini baru terpenuhi 60 persen. Politikus Partai Gerindra itu berharap, sisa kebutuhan saluran irigasi tersier bisa terselesaikan dalam jangka waktu satu hingga dua tahun ke depan. “Pembangunannya bertahap. Ada yang dibangun baru dan sebagian lainnya perbaikan saluran yang rusak,” ungkapnya.
Qiyar menegaskan, pembangunan saluran irigasi sangat besar manfaatnya bagi petani. Kelancaran saluran irigasi, kata Qiyar, berbanding lurus dengan hasil panen. Produksi hasil pertanian akan meningkat. Dua hingga tiga kali lipat. Dibanding lahan pertanian yang belum teraliri air irigasi. “Kami dukung petani jangan sampai kekurangan air untuk persawahan mereka, tegasnya.
Qiyar optimistis, saluran irigasi lancar bukan hanya akan berdampak positif pada upaya pemerintah dalam mewujudkan ketahanan pangan.
Tapi lebih dari itu. Kedaulatan dan kemandirian pangan sudah pasti terwujud. Sehingga petani lebih sejahtera.
Sementara itu, untuk mendukung peogram ketahanan pangan, Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) telah membangun saluran irigasi sepanjang delapan kilometer pada tahun 2025. Total anggarannya mencapai Rp 12 miliar lewat APBD.
Sekretaris DPUPKP Kabupaten Sleman Sukarmin menjelaskan, saluran irigasi yang dibangun dari saluran tanah yang diubah menjadi berkontruksi. Atau perbaikan saluran irigasi yang rusak menjadi baik kembali. Perbaikan diprioritaskan untuk saluran irigasi yang rusak sedang dan berat. Sedangkan untuk pemeliharaan rutin pada kerusakan ringan dilakukan oleh masing-masing unit pelaksana teknis (UPT).
Sukarmin berharap, dengan pembangunan dan perbaikan saluran irigasi maka hasil produksi pertanian bisa meningkat.
"Salah satu prioritas pembangunan kami memang wilayah Sleman barat yang jadi lumbung pangan. Tidak hanya irigasi, tapi ke depan diusulkan pembangunan embung," ujarnya.
Apabila nantinya petani menemukan adanya kerusakan saluran irigasi, Sukarmin menyarankan agar melapor ke masing-masing UPT atau melalui kanal Lapor Sleman.
Agar nantinya bisa langsung ditindaklanjuti oleh tim khusus DPUPKP Sleman. Dia juga berpesan agar petani turut merawat saluran irigasi yang telah dibangun. Salah satunya dengan membersihkan sedimen yang dapat menyumbat saluran.
Disinggung soal rencana pembangunan irigasi pada 2026, Sukarmin mengatakan saluran irigasi ini akan tetap jadi salah satu pritotas. Terutama bagi wilayah yang masuk dalam lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B) dan lahan sawah dilindungi (LSD). Agar nantinya bisa langsung berdampak pada hasil pertanian.
DPUPKP Sleman juga akan mengajukan bantuan dari pemerintah pusat menggunakan dana APBN. Khsususnya bagi saluran irigasi yang memang belum terbangun. "Selain jalan, irigasi ini jadi komitmen kami untuk diprioritaskan. Porsinya pada 2026 kami pastikan cukup dan dipertahankan dari rasionalisasi," sambungnya.(del/yog)
Konstruksi Cor Lebih Mantap
Sutrisno, petani asal Sleman barat, menegaskan, pentingnya kualitas dalam pembangunan saluran irigasi ini.
Jangan sampai saluran irigasi belum semuanya memiliki struktur, tapi yang sudah dibangun justru mengalami kerusakan.
Apabila kondisi ini terjadi maka irigasi di Bumi Sembada tidak akan bisa dalam kondisi mantap seluruhnya.
"Kalau saya itu berpikir semua saluran termasuk tersier harus dicor. Biar seperti Selokan Van Der Wijck yang sudah ratusan tahun masih utuh," katanya.
Jika tidak dicor, menurut Sutrisno, sepanjang perjalanan air hanya akan habis. Merembes ke dalam tanah.
Karena saluran irigasi bocor. Sehingga, tidak semua lahan pertanian bisa tercukupi kebutuhan airnya.
Kondisi ini dia nilai berpotensi bisa menyebabkan kegagalan panen. Terutama ketika terjadi di musim kemarau.
"Jika pakai sumur malah tidak efektif karena kontur tanah di wilayah Sleman barat agak beda. Tanahnya lempung,” bebernya.
Menurut Sutrisno, saat ini petani hanya bisa bergantung pada pemerintah dalam pembangunan saluran irigasi ini.
Tidak mungkin mereka bergerak secara swakelola. Lantaran untuk modal pertanian saja semakin lama semakin tinggi dan hasilnya terkadang belum sesuai dengan harapan. (del/yog)
Editor : Bahana.