SLEMAN - Jadi wirausaha identik dengan memiliki modal besar. Namun, berbeda dengan Riyang Gati. Pria asal Padukuhan Pendulan, Sumberagung, Moyudan, Sleman ini sukses merintis usaha dengan menjual rumput dengan nama Bakul Suket Jogja. Kanal media sosialnya bisa ditemukan dengan nama @suketin.id.
Riyang tidak pernah menyangka konten dari usahanya bisa menjadi trending. Bahkan hingga didatangi banyak wartawan dan diberitakan. Bagi pria 26 tahun ini, tidak ada yang begitu spesial dari dirinya. Sekadar tukang ngarit yang menjual rumput yang didapat.
"Enggak menyangka sama sekali. Rasanya seperti mimpi. Saya itu cuma ngarit, bakul suket, menariknya apa," terangnya sembari tertawa saat ditemui di kediamannya Selasa (18/11) lalu.
Baca Juga: Flyover dan Semiunderpass Canguk Magelang Sudah Diresmikan dan Beroperasi Hampir Setahun, Kini Masih Sisakan Masalah Sertifikat Lahan
Lulusan SMK Jurusan Teknik Komputer Jaringan ini bercerita, ide usahanya berawal dari sawah keluarga yang merugi. Padi yang dihasilkan tidak sesuai dengan biaya untuk menyewa traktor, membeli pupuk, dan membayar upah buruh. Di sisi lain, sawah sekitar milik tetangga juga memilih untuk libur. Jika dipaksakan, dia yakin, padi hanya akan habis dimakan tikus.
Pada momen itu, dia menyarankan keluarganya untuk memelihara rumput untuk dijual. Namun, dia berpikir untuk membuat ciri khas tersendiri. Lantaran sebenarnya sudah banyak penjual rumput termasuk para tetangga. Hingga akhirnya dia berpikiran untuk menjual rumput ini secara daring.
Baca Juga: Profesi Unik, Sutarmidi Warga Kulon Progo Menekuni Profesi Tukang Terapi Sapi Selama 26 Tahun
"Tetangga itu banyak yang jual, tapi enggak ada mereknya dan nawarinnya hanya pakai akun pribadi," katanya.
Gagasan itu terus digodok oleh Riyang. Hingga akhirnya dia memilih nama Bakul Suket Jogja. Sementara untuk media sosial dipilih nama suketin.id. Pemilihan nama ini dia sebut agar usahanya terlihat lebih keren.
Selain itu, dia menambahkan sebuah tagline, "Suket Ora Trending, Tapi Suket Iku Penting!". Lewat nama tersebut, dia mulai membuat konten-konten video dengan latar belakang lagu yang tengah viral. Dia tambahkan juga kalimat kekinian. Misalnya, "cekelan arit, bismillah dadi duit" atau "liane do petik cetobeli, aku tetep ngarit". Setiap konten video yang dihasilkan telah dilihat ribuan kali oleh warganet.
Baca Juga: Pemilik Kendaraan Tidak Lagi Mendapatkan BPKB Fisik. Masyarakat Khawatir, Polri: e-BPKB Sudah Dilengkapi Keamanan Tingkat Tinggi
Tak disangka, usahanya itu membuahkan hasil. Jika pada awalnya hanya terjual dua karung rumput sehari. Usai usahanya viral sehari bisa terjual hingga sembilan karung. Tak jarang Riyang menolak pembelian, bahkan mesti meminta bantuan saudara atau tetangga untuk membantu mencari rumput.
Harga tiap karung rumput sebesar Rp 25 ribu. Ada juga karung yang lebih besar dengan harga Rp 40 ribu. Apabila karung tidak dikembalikan, pembeli cukup menambah biaya Rp 2 ribu. Pria pehobi olahraga ini juga menggratiskan biaya ongkos kirim apabila tujuannya masih di kapanewon yang sama.
Baca Juga: Bentuk Posbankum Terbanyak, Pemprov Jateng Raih Rekor MURI
"Sebelum ini saya itu masih nganggur dan serabutan. Tapi Insya Allah sekarang madep manteb ngarit. Suket trending atau enggak, pasti tetap dibutuhkan," katanya.
Riyang bercerita, rumput yang dijual tidak ada jenis tertentu. Sebatas rumput liar yang tumbuh di sawah. Saat rumput telah habis dipanen, dia cukup menaburkan pupuk, tanpa menanam bibit apa pun. Rumput yang didapat sendiri berasal dari sawah keluarga seluas seribu meter. Selain itu, rumput di sawah warga yang memang tidak digunakan.
Menurutnya, telah ada hukum pengaritan yang sudah dipahami oleh tukang ngarit meski tidak tertulis. Apabila di sudut lahan dipasangi kayu atau bambu maka rumput tidak boleh diambil. Sementara apabila tidak ada maka siapa pun bebas mengambilnya.
Baca Juga: Gubernur Ahmad Luthfi Sebut Rumah Sakit Kardiologi Emirates-Indonesia Tercanggih
"Saya pakai arit manual. Memang ada alat yang otomatis, tapi rumputnya harus tinggi. Kalau pendek nanti hasilnya hancur," ungkapnya sembari menunjukkan telapak tangan yang penuh lecet.
Kegiatan mencari rumputnya dimulai sekitar pukul 09.00 saat embun mulai kering. Baginya ini penting. Rumput yang masih membawa banyak embun dinilai tidak baik bagi ternak karena bisa membuat kembung. Nantinya, Riyang akan kembali ke rumah saat waktu Zuhur. Selepas beristirahat, dia akan kembali ngarit hingga hari menjelang petang.
Menurutnya, usahanya ini tidak akan merugi. Kalau pun rumput yang dicari tidak ada yang membeli, dapat dijadikan pakan ternak milik keluarganya. Bagi Riyang, kunci keberhasilan usahanya hanya jeli melihat potensi di sekitar. Berani mencoba hal baru yang belum dicoba oleh orang lain.
"Di sekitar itu pasti banyak yang bisa dikembangkan. Penting rasah gengsi, rasah isin, nek ana le nyuarani dadike penyemangat," pesannya. (del)