SLEMAN - Aktivitas vulkanik Gunung Merapi kembali menunjukkan peningkatan signifikan sepanjang periode pengamatan Senin, 10 November 2025. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan terjadinya satu kali awan panas guguran (APG) serta puluhan gempa hybrid.
Berdasarkan laporan resmi BPPTKG untuk periode pengamatan pukul 00:00-24:00 WIB, status Gunung Merapi (2968 mdpl) masih ditetapkan pada Level III (Siaga).
Laporan tersebut merinci, awan panas guguran tercatat satu kali dengan amplitudo 34 mm dan durasi 113,17 detik. Namun, arah luncuran awan panas tidak teramati visual karena kondisi gunung yang tertutup kabut.
Selain APG, aktivitas guguran lava juga teramati intensif. "Teramati 7 kali guguran lava ke arah Barat Daya (meliputi Kali Krasak, Kali Bebeng, Kali Sat/Putih) dengan jarak luncur maksimum 1900 meter (1,9 km)," tulis petugas dalam laporan resmi tersebut.
Tingginya aktivitas ini juga didukung oleh data seismik internal. BPPTKG mencatat:
112 kali gempa Guguran (Amplitudo: 2-30 mm)
48 kali gempa Hybrid/Fase Banyak (Amplitudo: 2-31 mm)
1 kali gempa Tektonik Jauh (Amplitudo: 15 mm)
"Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung yang dapat memicu terjadinya awan panas guguran di dalam daerah potensi bahaya," jelas BPPTKG.
Selama periode pengamatan, cuaca di sekitar Merapi terpantau berawan hingga mendung, dengan curah hujan tercatat 19 mm per hari.
Rekomendasi Bahaya
Dengan status Siaga Level III, BPPTKG menegaskan kembali rekomendasi bagi masyarakat:
Dilarang berkegiatan di daerah potensi bahaya.
Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan-barat daya (Sungai Boyong maks. 5 km; Sungai Bedog, Krasak, Bebeng maks. 7 km).
Potensi bahaya pada sektor tenggara (Sungai Woro maks. 3 km dan Sungai Gendol 5 km).
Lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.
Masyarakat diminta mewaspadai bahaya lahar dan APG terutama saat terjadi hujan di seputar Gunung Merapi.
Masyarakat diimbau mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik.
BPPTKG menyatakan bahwa tingkat aktivitas Gunung Merapi akan segera ditinjau kembali jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan. Laporan ini disusun oleh Suratno dan Yulianto dari Pos Pengamatan Gunung Merapi BPPTKG. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin