SLEMAN — Gunung Merapi kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang signifikan. Dalam laporan pengamatan periode 5 November 2025, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat sebanyak delapan kali guguran lava pijar ke arah Kali Krasak dan Kali Sat/Putih, dengan jarak luncur maksimum mencapai 1800 meter.
Gunung Merapi, yang terletak di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah, masih berada pada Level III (Siaga). Selain guguran lava, aktivitas kegempaan juga cukup intens.
Terjadi 113 kali gempa guguran, 49 kali gempa hybrid/fase banyak, 2 kali gempa vulkanik dangkal, dan 2 kali gempa tektonik jauh.
Data ini menunjukkan suplai magma masih berlangsung dan berpotensi memicu awanpanas guguran (APG) di sektor rawan.
BPPTKG memperingatkan masyarakat untuk tidak beraktivitas di wilayah potensi bahaya, yang meliputi:
Sektor selatan-barat daya: Sungai Boyong (maks. 5 km), Sungai Bedog, Krasak, Bebeng (maks. 7 km). Sektor tenggara: Sungai Woro (maks. 3 km), Sungai Gendol (maks. 5 km)
Selain itu, masyarakat diminta mewaspadai potensi lahar saat hujan serta abu vulkanik yang dapat mengganggu aktivitas harian.
Cuaca di sekitar Merapi dilaporkan hujan dengan suhu udara antara 18,1–26°C dan kelembaban mencapai 99%. Meskipun sempat tertutup kabut, gunung terlihat jelas dan tidak teramati adanya asap kawah.
Baca Juga: Hans Christian Juara Satu di KASAU CUP 2025, Jadi Pemanasan di Ajang SEASA dan SEA Games
BPPTKG menegaskan bahwa pemantauan akan terus dilakukan, dan jika terjadi peningkatan signifikan, status aktivitas akan segera ditinjau ulang. Informasi resmi dapat diakses melalui MAGMA Indonesia dan kanal media sosial PVMBG di linktr.ee/PVMBG.
Tetap waspada dan patuhi arahan dari otoritas kebencanaan. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin