Tiga di antaranya turut berobat di Puskesmas Mlati 1. Sementara untuk siswa yang bergejala ada sekitar 200 orang.
Waka Kesiswaan SMPN 2 Mlati Rita Supriyatmi menjelaskan, memang para guru ikut mengonsumsi MBG karena banyak siswa yang menolak.
Jumlah rata-rata mencapai 50 orang dari total 457 siswa. Sebagian juga hanya mengambil buah atau susunya saja.
Khawatir mubazir, para guru dipersilakan untuk memakan MBG ini. Kalau pun nanti sisa maka akan dikembalikan pada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) lagi.
"Tapi sama seperti siswa, jam sembilan malam merasakan gejala sakit perut dan diare. Di sekolah ada tiga ambulans tadi," terangnya ditemui di SMPN 2 Mlati, Jumat (24/10).
Rita juga menyebut, MBG untuk hari ini memang sudah sempat datang sesuai jadwal. Namun, diputuskan untuk dihentikan dan dikembalikan seluruhnya.
Informasi awal yang dia dapat apabila ada kasus keracunan maka program akan dihentikan sekitar lima kali jadwal.
"Sampai saat ini belum ada informasi orang tua menolak. Saran saya memang menu jangan berkuah apalagi santan karena cepat basi," tambahnya.
Untuk saat ini pembelajaran tetap berlangsung seperti biasa. Hanya saja bagi mereka yang terdampak diperkenankan untuk langsung pulang.
Sementara itu, salah satu orang tua siswa yang keracunan, Erizal menjelaskan, merasa khawatir karena kejadian ini.
Dia berharap agar program dialihkan menjadi uang tunai. Lalu nanti orang tua bisa memasaknya sendiri.
"Cemas. Saya itu kerja jauh-jauh langsung ke sini. Alhamdulillah anak gapapa," tambahnya.
Selama program berjalan, putranya tidak pernah lagi membawa bekal dan selalu mengonsumsi MBG. Harapannya akan ada evaluasi pada SPPG mengingat kejadian ini berdampak pada berbagai sekolah.
"Saya enggak berani komentar dihentikan atau gimana karena ini program pemerintah," tambahnya. (del)
Editor : Bahana.