SLEMAN - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman selama ini hanya bergantung pada Selokan Mataram dan Saluran Van Der Wijck untuk ketersediaan air bagi petani. Namun ke depan, Pemkab Sleman berencana memanfaatkan embung baru.
Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Sleman Sukarmin menjelaskan, ada tiga lokasi yang diusulkan melalui Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO) ke Kementerian PUPR. Terdiri dari Embung Sipentol di Minggir, lalu Embung Watukucir di Turi, dan Embung Gedongan di Ngemplak.
"Ini masih usulan semoga terkabul," katanya melalui pesan singkat, Senin (13/10).
Dia menyebut, salah satu faktornya memang untuk mengantisipasi dua saluran utama pengairan Bumi Sembada, yakni Selokan Mataram dan Saluran Van Der Wijck saat dimatikan. Selain itu, desain Saluran Van Der Wijck yang debitnya digunakan sampai wilayah Kabupaten Bantul.
"Jadi debit yang ke Moyudan dan Minggir di sisi barat itu tidak cukup," katanya.
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) Sleman Rofiq Andriyanto menyebut, luas baku sawah Bumi Sembada mencapai 15,819 hektare. Wilayah yang tergantung pada Selokan Mataram 1.328 hektare dan Saluran Van Der Wijck 3.831 hektare. Lainnya menggunakan air dari sungai maupun bendungan yang sudah ada.
Apabila nanti ada penutupan di dua saluran tersebut, dia hitung hanya 2.300 hektare lahan saja yang terdampak. Lantaran wilayah lain masih ada simpanan air yang masuk ke badan sungai. "Kalau di Cangkringan itu juga banyak mata air," katanya.
Di sisi lain, pada daerah-daerah yang memang tidak mencukupi airnya tersedia sumur bor. Biasanya sumur ini digunakan saat musim kemarau saja. Sementara saat musim hujan, petani tidak akan mengalami masalah air.
"Kemarau normal 3 sampai 4 bulan. Kadang memang sampai 6 bulan. Di sini fungsi sumur bor dan pompa air," tambahnya. (del/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita