SLEMAN - Aksi demonstrasi kembali digelar di Pertigaan Revolusi UIN Sunan Kalijaga, Selasa (2/9). Dalam aksi yang diinisiasi oleh Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) DIY ini turut dihadiri oleh Paguyuban Nayantaka DIY.
Nayantaka sendiri merupakan wadah paguyuban lurah dan pamong. Di sini mereka terlihat lengkap menggunakan pakaian jawa berupa lurik dan blangkon. Bawahan menggunakan jarik. Tanpa keris dan alas kaki.
Sekretaris Bidang Reformasi Kalurahan dan Urusan Keistimewaan Paguyuban Nayantaka DIY Wahyu Nugroho menjelaskan, pada kesempatan ini ada sepuluh orang yang hadir. Sebelumnya, bersama kawan-kawannya telah ronda di area Malioboro.
"Alhamdulillah di Malioboro kondusif, kemudian dapat info ada aksi di sini. Jadi rondanya geser," katanya ditemui di lokasi.
Laki-laki yang juga merupakan Lurah Sambirejo ini menyebut, kehadiran mereka bukan untuk mengamankan. Namun sekadar melihat dan ikut memastikan agar setiap penyampaian aspirasi berlangsung secara damai, nyaman, dan tentram.
Penggunaan baju adat sendiri sebagai simbol bahwa setiap laku tidak perlu dilakukan terburu-buru. Harus dipikirkan dengan matang dan disampaikan dengan baik.
"Kami juga bawa tiwul dan dibagikan pada teman-teman yang menyampaikan aspirasi. Agar lokalitas dapat," tambahnya.
Wahyu menyebut, lurah dan pamong memang memiliki tanggung jawab di wilayah masing-masing. Meski demikian, kehadiran mereka sebagai wujud kasih sayang pada DIY. Mereka biasanya mulai berkumpul di kepatihan usai jam makan siang. Kegiatan ini sudah dilakukan sejak dua hari lalu.
"Ada yang dari Kulon Progo, Gunungkidul, Sleman, Bantul. Kemarin kami pulang jam enam sore," tambahnya. (del)
Editor : Sevtia Eka Novarita